"Ya," jawab Maysarah.
Rahib itu kemudian berkata,"Pemuda yang duduk di bawah pohon itu adalah seorang nabi."
Pernah pula ada seorang lelaki
berselisih dengan Muhammad. Maysarah menduga lelaki itu sengaja
mencari-cari masalah. Ia berkata kepada Muhammad, "Bersumpahlah dengan
nama Lata dan Uzza!"
Maysarah juga bercerita kepada
Khadijah tentang tingkal laku Muhammad di sepanjang perjalanan. Semua
itu menunjukkan kejujuran, keluhuran budi, dan kelembutan hatinya.
Khadijah
mulai berpikir dan menimbang-timbang semua cerita yang didengarnya itu.
Ia tahu bahwa semua penduduk Mekah meraa kagum kepada Muhammad. Mereka
percaya dengan kejujuran, integritas, dan kebersihan moralnya. Julukan
yang beredar untuknya adalah al-amîn yang berarti 'orang yang dapat
dipercaya'. Khadijah sendiri mengakui bahwa Muhammad adalah pemuda yang
hampir sempurna.
Khadijah mulai bertanya-tanya. Perasaan apa yang ada di dalam hatinya.
Mengapa ia merasa kagum ketika melihat Muhammad memasuki kota Mekah
dengan untanya? Tidak salahkah penglihatannya ketika ia menyaksikan
sendiri dua malaikat menaungi Muhammad? Rasa gembira ketika mendengar
Muhammad memperoleh keuntungan besar di Syam; benarkah rasa itu muncul
hanya karena kabar keuntungan finansial yang didapatnya? Bagaimana ia
harus menyikapi cerita-cerita aneh yang dikabarkan oleh Maysarah?
Semua orang pada masa itu, termasuk Khadijah, tentu pernah mendengar
ramalah para rahib mengenai seorang nabi yang akan muncul di jazirah
Arab. Apakah Muhammad nabi yang ditunggu-tunggu itu? Dalam perjalanan ke
Syam, Muhammad memang berhasil memperoleh laba besar dengan jumlah yang
tidak pernah diperoleh oleh siapa pun sebelumnya. Apakah hal itu
berhubungan dengan statusnya sebagai calon nabi?
Sebenarnya, Khadijah telah mencoba untuk tidak memikirkan
pertanyaan-pertanyaan itu. Tetapi, semakin keras ia berusaha untuk
melupakannya, semakin sering pikiran-pikiran itu muncul di kepalanya.
Dan anehnya, Khadijah merasa bahagia dengan semua itu. Ia
bertanya-tanya, apakah pikiran itu lahir dari rasa kagum yang sama
seperti apa yang dirasakan oleh orang-orang Quraisy?
Di ujung rasa bimbangnya, Khadijah pergi menemui sepupunya,
Waraqah ibnu Naufal.
Mendengar cerita Khadijah, ada rasa bahagia yang aneh dirasakan oleh
Waraqah. Ia bangkit lalu berkata bahwa berdasarkan kitab-kitab suci yang
pernah dibacanya, Allah akan mengutus seorang rasul terakhir dari anak
keturunan Isma'il yang lahir di dekat baitullah.
Waraqah kemudian terdiam. Ia berpikir serius, lalu berkata,
"Wahai Khadijah, jika apa yang kupikirkan ini benar, maka Muhammad
pastilah seorang nabi. Yang kutahu dengan pasti, seorang nabi akan
muncul dari bangsa ini. Dan sekaranglah saat kemunculannya."
Waraqah juga berharap dirinya dikaruniai umur panjang sehingga ia bisa
beriman, mengikuti ajaran-ajaran nabi itu, dan membelanya menghadapi
musuh-musuhnya. Di akhir pembicaraan, Waraqah melantunkan syair
,
Bertahan aku dengan ingatan
tentang sedih yang melahirkan jeritan
hingga engkau, Khadijah, datang kepadaku
Betapa lama, Khadijah, aku menunggu!
LANGKAH MENUJU PINANGAN
 |
| Love Puzzle | webdesign.org |
Khadijah percaya
sepenuhnya akan kebenaran pernyataan Waraqah. Ia tahu bahwa cinta yang
tumbuh di hatinya adalah perasaan yang wajar bagi wanita mulia yang
mendambakan seorang pendamping hidup yang dapat dipercaya. Bahkan ia
juga meyakini bahwa rasa cinta itu merupakan anugerah Tuhan keapada
dirinya, bahwa Tuhan menghendakinya untuk terlibat dalam rencana
besar-Nya bagi manusia.
Akhirnya, meski sempat ragu, Khadijah kemudian memutuskan untuk menikah
dengan Muhammad dan mengambil inisiatif untuk meminangnya. Tetapi, masih
ada satu pertanyaan yang harus ia jawab: siapa yang dapat menjamin
bahwa Muhammad akan menerima pinangannya?
Khadijah adalah wanita yang kaya, cantik, dan berstatus sosial tinggi.
Ia masih memiliki pesona bagi banyak laki-laki. Di sisi lain, Muhammad
bukanlah lelaki yang rakus dan gampang tergoda oleh hal-hal yang
bersifat lahiriah. Tetapi, Khadijah tahu bahwa walau bagaimanapun,
Muhammad tetaplah seorang pemuda. Adalah haknya untuk mencintai seorang
gadis yang sebaya.
Dengan mempertimbangkan hal-hal tadi, Khadijah memilih untuk menggunakan
sebuah siasat. Ia mengutus seorang wanita yang ia yakini kemampuan dan
loyalitasnya untuk secara diam-diam melakukan pendekatan awal kepada
Muhammad. Wanita yang dipercayainya untuk mengemban tugas itu adalah
Nafisah binti Umayyah yang masih kerabat dekat Muhammad dan saudara
perempuan bagi seorang lelaki yang kemudian menjadi salah satu sahabat
Nabi yang terkemuka, Ya'la ibnu Umayyah.
Nafisah mendatangi Muhammad dan menasihatinya seperti seorang ibu
menasihati anaknya. Ia mencoba untuk meyakinkan Muhammad tentang
pentingnya menikah. Muhammad menjawab bahwa dirinya hanya seorang miskin
yang tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepada wanita yang akan
menajdi istrinya.
Nafisah membantah hal itu. Menurutnya, kemisikinan bukan halangan untuk
menikah. Apalagi Muhammad telah lama dikagumi oleh penduduk Mekah karena
akhlak dan kejujurannya. Karena itu, menurut Nafisah, semua orang tua
tentu mengharapkan Muhammad datang dan meminang putri mereka.
Setelah Muhammad dapat diyakinkan tentang pentingnya menikah, barulah
Nafisah menyatakan bahwa wanita yang paling patut menjadi istrinya
adalah Khadijah. Alasannya sederhana. Khadijah adalah wanita yang
cantik, kaya, bagus nasabnya, pandai menjaga kehormatan, dan luhur
akhlaknya. Masyarakat pun menjukukinya "wanita yang suci".
Mengetahui pilihan Nafisah, Muhammad pun terkejut. Menurutnya, Nafisah
berlebihan. Dari mana ia akan memperoleh harata untuk membayar mahar
Khadijah? Nafisah menjawab bahwa kalau Muhammad setuju untuk menikah
dengan Khadijah, urusan mahar tidak perlu dipikirkan.
Nafisah menceritakan proses "diplomasi" awal yang dilakukannya itu dalam sebuah riwayat. Ia berkata,
"Khadijah pernah mengutusku sebagai perantara kepada Muhammad setelah ia
pulang dari Syam. Kukatakan kepadanya, 'Apa yang menghalangimu untuk
menikah?' Muhammad menjawab, '
Aku orang miskin yang tidak punya harta.'
Kukatakan, 'Jika aku tanggung semua keperluanmu untuk menikah dan
kupilihkan seorang wanita yang cantik, kaya, mulia, dan cocok untukmu,
maukah engkau menikah?' Muhammad kembali bertanya, '
Siapa wanita itu?' Aku menjawab, 'Khadijah.' Muhammad kembali bertanya, '
Bagaimana mungkin?' Kukatakan, 'Aku yang akan mengaturnya.'"
[Bersambung]