0
Selasa, 05 Juni 2012

Mengapa Allah Menciptakan Makhluk?





Syaikh Abu Yazid al-Bistami ditanya oleh seseorang, “Mengapa Allah menciptakan makhluk?”
Ia menjawab, “Allah menciptakan makhluk untuk… 

menunjukkan kekuasaan-Nya; Dia memberikan rezeki kepada mereka untuk menunjukkan kemurahan-Nya; Dia menghidupkan mereka untuk menunjukkan kebesaran-Nya; Dia mematikan mereka untuk menunjukkan keperkasaan-Nya; Dia menghitung amal mereka untuk menunjukkan keadilan-Nya;

...

Dia memasukkan mereka ke dalam surga untuk menunjukkan karunia dan kasih sayang-Nya; Dia memasukkan orang-orang kafir ke dalam neraka untuk menunjukkan murka dan azab-Nya.” Di samping itu, alasan Allah menciptakan alam semesta karena mereka akan memuji dan membesarkan-Nya.

...

Hal ini kemudian diperjelas dengan sabda Nabi Muhammad Saw. yang menyatakan firman Allah:
“Khalaqtu al-khalq liyurbihu li wa la arbaha ‘alayhim“, ‘Aku ciptakan makhluk supaya mereka mengambil manfaat dari-Ku, dan sekali-sekali Aku tidak mengambil manfaat dari mereka’.

...

Firman Allah Swt. tatkala menjawab pertanyaan Nabi Daud a.s. yang datang bersujud kepada-Nya seraya bertanya, “Ya Tuhanku! Apa alasan Engkau menciptakan makhluk?”
Allah pun menjawab, “Kuntu kunuzun makhfiyya, fa ahbabtu an u’raf, fakhalaqtu al-khalqa li’uraf” “Aku adalah Perbendaharaan Yang Tersembunyi, padahal Aku sangat ingin dikenal. Oleh karena itu, Aku ciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku.”

Seperti Firman Allah dalam Adh-Dhariyat (51) ayat: 56
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.

...

Menurut Ibn Abbas–seorang mufasir Alquran periode awal– frasa “beribadah kepada-Ku (ya’ buduuni) bermakna “mengetahui-Ku (ya’rifuuni)” atau lebih tegas lagi “mengenal-Ku.”


Allahua’lam.
4

Tauhid Islam Tidak Mengajarkan Pengesaan Tuhan




tauhid-itu-bukan-mengesakan-Allah-ibnuabbaskendari
Sungguh berbeda: satu dengan esa.


Salam alaikum, Sobat Sarang...
Meskipun tulisan ini bukan sambungan langsung tulisan yang saya janjikan sebelumnya mengenai Ruh Qudus,insyaAllah, tulisan ini dan beberapa tulisan selanjutnya akan menjadi jembatan menuju pemahaman yang utuh mengenai kedudukan Ruh Qudus dalam pengesaan kita di hadirat Ilahi Rabbi. Amin.

Tauhid artinya mengesakan. Bukan mengesakan Allah. Allah sudah Esa. Akan tetapi, mengesakan segala sesuatu yang diciptakan Allah kepada Allah. Jadi jelasnya, tauhid itu mengesakan segala sesuatu, termasuk diri kita, kepada Allah Swt. karena yang ada pada segala sesuatu dan yang ada pada diri kita ialah sebenarnya Af'al (Perbuatan) Allah, Asma (Nama) Allah, Sifat Allah, dan Zat Allah.

Keempat macam inilah yang perlu kita kenal dan kita ketahui karena kenyataan hakikatnya itu ada pada kita, seperti
  1. Af'al Allah   : kenyataan hakikatnya pada diri kita adalah tubuh atau jasad kita;
  2. Asma Allah : kenyataan hakikatnya pada diri kita adalah hati;
  3. Sifat Allah   : kenyataan hakikatnya pada diri kita adalah nyawa;
  4. Zat Allah     : kenyataan hakikatnya pada diri kita adalah rahasia.  

Mengapa Zat dikatakan rahasia? Karena yang namanya Zat itu tidak berbentuk, tidak berwarna, tidak berbau, tidak bertempat, dan lain-lain. Karena Zat itu laysa kamitslihi syai'un, tidak ada seumpamanya. Ini  baru Zat, sedangkan Allah terlebih laysa kamitslihi syaiun. Ini sebabnya Rasulullah melarang memikir-pikirkan soal Zat Allah: bukan karena tidak boleh, melainkan karena memang tidak bisa! Ini baru Zat-Nya, apalagi Allah Pribadi: Sang Maha Pencipta. 

Memikir-pikirkan Zat Allah itu bukan tidak boleh, melainkan karena memang tidak bisa!

Memaksakan yang mustahil itulah yang menimbulkan penyimpangan dan melahirkan dosa.

Keempat macam yang ada pada segala sesuatu dan ada pada diri kita inilah yang perlu diesakan pada Allah. Bukan Allah-nya yang diesakan.

Kalau kita sudah tahu hakikat yang empat ini, bahwa 
Tubuh    hakikatnya Af'al Allah,
Hati       hakikatnya Asma Allah,
Nyawa   hakikatnya Sifat Allah, dan
Rahasia  hakikatnya Zat Allah
tentulah kita sadari, pada diri kita itu tidak ada tubuh, tidak ada hati, tidak ada nyawa, tidak ada rahasia. Yang ada adalah Af'al Allah, Asma Allah, Sifat Allah, dan Zat Allah. 

Inilah maksud sebenarnya perkataan "makhluk itu tidak punya wujud hakiki". Inilah makna sebenarnya  "sekalian makhluk itu fana di hadirat Ilahi Rabbi". Bukan mem-fana-fana-kan diri atau mengosong-kosongkan diri atau meniada-tiadakan diri, seperti yang dilakukan sebagian golongan tasawuf.

Makrifatnya, apa saja yang terpandang mata, semuanya itu adalah Af'al Allah: Perbuatan Allah.
Umpama:
Kita memandang sesuatu yang sudah kita kenal. Katakanlah kita sedang memandang gelas. Begitu kita memandangnya, tidak ada ragu lagi di hati kita bahwa itu adalah gelas. Begitulah pula kalau kita sudah kenal dengan Af'al Allah, mau apa lagi yang diragukan?


makrifat-glass-gelas-makrifat
Orang yang sudah kenal gelas
tidak akan ragu menyebut
gambar di atas adalah
gambar gelas.


Bahkan kita tahu tiada satu makhluk pun di jagat raya ini yang bisa membuat tubuh nyamuk. Kalau kita sudah sadar tidak ada perbuatan makhluk, tentu perlulah kita sadari perbuatan siapakah itu?

Menurut para muwwahid (orang-orang ahli tauhid) untuk sempurna makrifat kita pada Allah Swt. dan sempurnanya musyahadah (persaksian) kita kepada Allah, hendaklah kita mengetahui tauhidul (jalan peng-esa-an) Af'al, tauhidul Asma, tauhidul Sifat, dan tauhidul Zat. Kalau dikaitkan dengan ibadah, jalan yang sampai kepada Allah Swt. itu syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat. Inilah jalan pengenalan yang sampai kepada Allah Swt.


- Syaikh Sirad -

1

Cahaya Tuhan Bernama Allah






Ketika belum ada sesuatu, tentu belum ada yang mengatakan Tuhan. Kemudian Tuhan Berkehendak diri-Nya disebut Tuhan dan minta dikenal, maka diciptakanlah makhluk.

Makhluk apa yang pertama diciptakan-Nya? Inilah yang perlu dikenal, yaitu Cahaya Diri-Nya Sendiri. Inilah Rahasia Diri-Nya, inilah yang bernama Allah

Jadi, Cahaya Diri  Tuhan itulah yang bernama Allah, juga bernama Nur, juga bernama Rahasia. Insan dan semesta alam juga dari Cahaya Diri-Nya.

Jika Cahaya itu diri kamu, sampailah kamu dan beserta Tuhanlah kamu.

- Syaikh Undang Sirad -

۞ ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشۡكَوٰةٍ۬ فِيہَا مِصۡبَاحٌ‌ۖ ٱلۡمِصۡبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ‌ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّہَا كَوۡكَبٌ۬ دُرِّىٌّ۬ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ۬ مُّبَـٰرَڪَةٍ۬ زَيۡتُونَةٍ۬ لَّا شَرۡقِيَّةٍ۬ وَلَا غَرۡبِيَّةٍ۬ يَكَادُ زَيۡتُہَا يُضِىٓءُ وَلَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡهُ نَارٌ۬‌ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ۬‌ۗ يَہۡدِى ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ‌ۚ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَـٰلَ لِلنَّاسِ‌ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ۬ (٣٥)

Allah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca [dan] kaca itu seakan-akan bintang [yang bercahaya] seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, [yaitu] pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur [sesuatu] dan tidak pula di sebelah barat [nya], yang minyaknya [saja] hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya [berlapis-lapis], Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. An-Nur:35)
1

Tauhid Hakiki - Ilmu Ayam Jago Berkokok dalam Telur sumber asli: Tauhid Hakiki - Ilmu Ayam Jago Berkokok dalam Telur |

0

Kata-kata Terakhir Sang Mustafa






Bacalah, meski hanya satu kali.

Tiba-tiba, ada orang yang datang, katanya.”Assalamualaikum.”
”Bolehkah saya masuk?" ia bertanya.
Tapi Fatimah r.a. tidak mengizinkan dia memasuki ruangan.
"Maafkan aku, ayah saya sakit," kata Fatimah (rt, Anha), memutar tubuhnya kembali dan menutup pintu.


Dia kembali kepada ayahnya yang telah membuka mata dan bertanya pada Fatimah r.a., "Siapa dia, anakku?"
”Aku tidak tahu, ayahku. Ini adalah pertama kali aku melihatnya," Fatimah r.a. berkata dengan lembut.
Lalu, Rasulullah Saw.menatap putrinya dengan tampilan gemetar, seolah-olah ia ingin mengenang setiap bagian dari wajah putrinya.
"Ketahuilah satu hal! Dialah yang menghapus kenikmatan sementara, ia adalah yang memisahkan persahabatan di dunia.
Dia adalah malaikat maut, "kata Rasulullah Saw.
Fatimah r.a. menahan luap tangisnya.


Malaikat maut datang ke arahnya, tapi Rasulullah Saw.bertanya mengapa Jibril a.s tidak datang bersama dengan dia .. Kemudian, Jibril a.s dipanggil. Jibril a.s. sudah siap di langit untuk menyambut jiwa Habibullah dan pemimpin bumi.
"Hai Jibril, jelaskan padaku tentang hak-hak saya di depan ALLAH?" Rasulullah Saw. bertanya dengan suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat sedang menunggu ruh Anda."
"Semua surga terbuka lebar menanti Anda," kata Jibril a.s.
Namun, pada kenyataannya, semua ini tidak membuat Rasulullah terlihat lega, matanya masih penuh kecemasan ..
"Anda tidak senang mendengar berita ini?" tanya Jibril a.s.
"Ceritakan tentang nasib umatku di masa depan?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul ALLAH Saw., aku mendengar ALLAH berfriman: "Kelak Aku haramkan surga untuk setiap manusia kecuali umat Muhammad saw. telah berada di dalamnya," kata Jibril a.s.

Detik demi detik menjadi lebih dekat dan lebih dekat, saatnya Malaikat Izrail a.s. untuk melakukan tugasnya. Perlahan-lahan, ruh Rasulullah saw. ditarik. Tubuh Rasulullah terlihat penuh keringat; urat leher beliau menegang.
”Jibril a.s., betapa menyakitkan sakaratul maut ini!"
Rasulullah Saw. mengerang perlahan. Fatimah r.a. memejamkan mata, Ali r.a. duduk di sampingnya membungkuk dalam-dalam dan Jibril a.s. memalingkan wajah kembali.
"Apakah Aku tampak menjijikkan bagimu sehingga Engkau memalingkan kembali wajahmu wahai Jibril?”
"Siapakah gerangan yang sanggup melihat Kekasih Allah dalam kondisi sakaratul maut?," lirih Jibril a.s..
'O ALLAH, betapa hebatnya sakaratul maut ini. Berikan padku semua rasa sakit itu, jangan Engkau berikan kepada umatku."
Tubuh Rasulullah Saw. menjadi dingin, kaki, dan dadanya tidak bergerak lagi ....Bibirnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu, Ali r.a. mendekat ke telinganya ke hadirat Rasulullah Saw.
'Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku – peliharalah salat dan santuni orang-orang lemah di antara kamu."
Di luar ruangan, tangis mulai membahana, para sahabat saling berpelukan. Fatimah r.a. menutup wajahnya dengan tangannya dan, sekali lagi, Ali r.a. mendekatkan telinga ke mulut Rasulullah Saw. yang mulai kebiruan.
'Ummatii, ummatii, ummatii? " - 'Umatku, umatku, umatku. "
Dan kehidupan manusia yang mulia berakhir. Bisakah kita saling mencintai seperti dia? Allahumma Shalli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi. Sebagaimana Rasulullah Saw. mengasihi kita?

Catatan:
Kirim ini ke semua teman Muslim sehingga ada kesadaran terhadap cinta ALLAH dan Rasul-Nya - karena - benar-benar - selain cinta ini, cinta yang lain hanyalah hal fana (tidak kekal). Amin ......

Jangan khawatir jika orang membencimu karena ada banyak orang lain yang mengasihimu dan menjagamu di bumi ini. Tapi, khawatirlah jika ALLAH membencimu karena di akhirat kelak tak seorang pun akan mencintai dan peduli padamu.

Semoga Allah SWT membimbing kita semua ke jalan yang lurus dan mengaruniai kita semua keberanian untuk menerima kebenaran dalam cahaya Al-Quran dan Sunnah dan untuk menolak semua hal-hal yang bertentangan dengan Al Qur'an dan Sunnah. Amin!

Tolong sebarkan ini ke sekelilingmu, insyaAllah kamu akan menjadi sebab yang membangkitkan kecintaan terhadap Nabi Saw.dalam hati seseorang.
Sumber: pos-el (e-mail) berantai
0

Gembel di Bumi, Raja di Langit




Abu Hurairah r.a. berkata, "Ketika kami berada di majelis Rasulullah Saw. tiba-tiba Rasulullah Saw. berkata, "Besok pagi akan ada seorang ahli surga yang salat bersama kalian. Abu Hurairah berkata,"Aku berharap semoga akulah yang ditunjuk oleh Rasulullah itu.
Maka pagi-pagi aku salat di belakang Rasulullah Saw. dan tetap tinggal di majelis setelah orang-orang pulang. Tiba-tiba ada seorang hamba hitam berkain compang-camping datang berjabat tangan pada Rasulullah Saw. sambil berkata, "Ya Nabiyallah, doakan semoga aku mati syahid. Maka Rasulullah Saw. berdoa sedang kami mencium bau kasturi dari badannya. 

Kemudian aku bertanya, "Apakah orang itu, Ya Rasulullah?" Jawab Nabi,"Ya, benar. Ia hamba sahaya dari bani fulan. Abu Hurairah berkata,"Mengapa tidak Engkau beli dan Engkau merdekakan, Ya Nabiyallah?" Jawab Nabi,"Bagaimana aku akan dapat berbuat demikian, bila Allah akan menjadikannya seorang raja di surga?"

"Hai Abu Hurairah, sesungguhnya di surga itu ada raja dan orang-orang terkemuka. Dan ini salah seorang raja dan terkemuka. Hai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah kasih kepada makhluk-Nya yang suci hatinya, yang samar, yang bersih, yang terurai rambutnya, yang kempis perut kecuali dari hasil yang halal, yang bila akan masuk kepada raja tidak diizinkan, bila meminang wanita bangsawan tidak diterima, bahkan bila mati tidak dihadiri jenazahnya."

Ketika saeorang sahabat bertanya, "Tunjukkan kepada kami seorang dari mereka, Ya Nabi." Jawab Nabi,"Yaitu Uwais Alqarani, seorang berkulit cokelat, lebar kedua bahunya, sedang tingginya, selalu menundukkan kepalanya sambil membaca Alquran, tidak terkenal di bumi, tetapi terkenal di langit. Andaikan ia bersungguh-sungguh minta sesuatu kepada Allah, pasti diberi-Nya. Di bawah bahu kirinya ada bekas belang sedikit."

"Hai Umar dan Ali, jika kamu bertemu dengannya, mintalah kepadanya supaya membacakan istigfar untukmu."

(Disarikan dari Kitab Al-Hikam: Pendekatan Abdi kepada Khaliknya karya Syaikh Ibnu 'Athaillah as-Sakandari)


1

Canda Sang Nabi



Salam sobat, 
InsyaAllah, sobat-sobat tahu Grup band kocak Seurieus asal Kota Bandung yang pernah memopulerkan lagu Rocker Juga Manusia 'kan?! Nah, kali ini saya ingin mengetengahkan topik yang memanfaatkan paradigma judul lagu tersebut: Nabi Juga Manusia. Cekidot yah, Hehehe.. 

Pernah suatu ketika Rasulullah datang mengunjungi Fatimah. Tak ada Ali saat itu. Beliau bertanya, di mana Ali berada. Fatimah menjawab bahwa Ali berada di masjid. Rasulullah segera mencari menantunya itu. Ali ternyata sedang tidur. Bagian atas pakaiannya tersingkap. Debu mengotori punggungnya. Melihat itu, Rasulullah duduk lalu membersihkan punggung Ali. Beliau berkata, "Duduklah, wahai Abu Turab*. Duduklah."

Nama Abu Turab yang disematkan Rasulullah seraya bercanda itu kemudian menjadi julukan yang paling disukai Ali.
*turab berarti debu atau tanah

Salah satu pemberian Rasulullah kepada Ali dan Fatimah pada hari pernikahan keduanya adalah sepotong selimut. Selimut ini sangat pendek. Jika ia dipakai menutup kepala, kaki akan tersingkap. Jika kaki yang ditutup, maka kepala akan terbuka. Dalam kehidupan berkeluarga mereka selanjutnya, selimut itu mendatangkan kegembiraan tersendiri.
donggu13


Rasulullah SAW bergaul dengan semua orang. Baginda menerima hamba, orang buta, dan anak-anak. Baginda bergurau dengan anak kecil, bermain-main dengan mereka, bersenda gurau dengan orang tua. Akan tetapi Baginda tidak berkata kecuali yang benar saja.

Suatu hari seorang perempuan datang kepada beliau lalu berkata,
"Ya Rasulullah! Naikkan saya ke atas unta", katanya.
"Aku akan naikkan engkau ke atas anak unta", kata Rasulullah SAW.
"Ia tidak mampu", kata perempuan itu.
"Tidak, aku akan naikkan engkau ke atas anak unta".
"Ia tidak mampu".
Para sahabat yang berada di situ berkata,
"Bukankah unta itu juga anak unta?"

Datang seorang perempuan lain, dia memberitahu Rasulullah SAW,
"Ya Rasulullah, suamiku jatuh sakit. Dia memanggilmu".
"Semoga suamimu yang dalam matanya putih", kata Rasulullah SAW.
Perempuan itu kembali ke rumahnya. Dan dia pun membuka mata suaminya. Suaminya bertanya dengan keheranan, "Kenapa kamu ini?".
"Rasulullah memberitahu bahwa dalam matamu putih", kata istrinya menerangkan. "Bukankah semua mata ada warna putih?" kata suaminya.

Seorang perempuan lain berkata kepada Rasulullah SAW,
"Ya Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar aku dimasukkan ke dalam syurga". "Wahai ummi fulan, syurga tidak dimasuki oleh orang tua".
Perempuan itu lalu menangis.
Rasulullah menjelaskan, "Tidakkah kamu membaca firman Allah ini: serta Kami telah menciptakan istri-istri mereka dengan ciptaan istimewa, serta kami jadikan mereka senantiasa perawan (yang tidak pernah disentuh), yang tetap mencintai jodohnya, serta yang sebaya umurnya".

Para sahabat Rasulullah SAW suka tertawa tapi iman di dalam hati mereka bagai gunung yang teguh. Na'im adalah seorang sahabat yang paling suka bergurau dan tertawa. Mendengar kata-kata dan melihat gelagatnya, Rasulullah turut tersenyum.

  • Celoteh kocak tentang Umar ibnu Khattab r.a.
Jika orang yang paling keras memusuhi Nabi adalah Abu Jahal, maka orang yang paling keras menyiksa kerabatnya-kerabatnya yang masuk Islam adalah Umar ibnu Khattab. Ada sebuah kisah menarik tentang Umar ibn Khattab. Kisah ini terjadi antara Abu Abdillah Amir ibnu Rabi'ah dan istrinya ketika mereka berdua hendak berhijrah ke Habasyah. Waktu itu sang istri menyatakan bahwa ia merasa prihatin dan kasihan kepada Umar. 
Amir pun bertanya,"Apakah engkau berharap Umar akan masuk Islam?"
"Ya," jawab istrinya.
Dengan putus asa Amir berkata,"Ia tidak akan masuk Islam sampai keledai-keledai ayahnya masuk Islam pula."
emot110

Akan tetapi, bukan hanya istri Amir yang berharap Umar masuk Islam. Rasulullah pun demikian. Setiap kali melihat Abu Jahal atau Umar, beliau selalu berdoa, "Ya Allah! Kuatkanlah agama-Mu ini dengan salah seorang yang paling Engkau cintai dari keduanya." Dan Allah Swt ternyata lebih mencintai Umar ibnu Khattab.

Demikianlah Sobat semua, kisah-kisah kocak yang pernah terjadi pada masa kehidupan Rasulullah Saw. beserta para sahabatnya. Semoga semakin menambah kecintaan kita semua pada beliau semua. Amin.

Oya, ada juga beberapa petunjuk syar'i mengenai adab bercanda Islami yang mudah-mudahan bisa menjadi bekal kita semua (termasuk diri saya pribadi) dalam meningkatkan kualitas kepribadian kita sebagai umatnya nabi dan rasul akhir zaman. Amin (lagi, hehee). Silakan klik ke sini. Salaaam!

Disarikan dari:
Kisah Kehidupan Nabi Muhammad Saw. dan para sahabatnya oleh Saudara Azhar Jaafar dan KhadijahThe True Love Story of Muhammad karya Abdul Mun'im Muhammad Umar, Penerbit Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2010 

n.b. : Alhamdulillah, postingan ini menandai kesembuhan saya dari post review syndrome. Saya sempat mengalami "demam panggung"; tidak bisa membuat postingan baru setelah Sarang Muxlimo terkena bidik ulasan dari sahabat blogger saya yang baik hati, Mas Khalid Abdullah yang bersemayam di sana, hehehe . 
Postingan ini pun sebenarnya adalah permintaan beliau. Hanya doa yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan Mas Khalid telah "mengiklankan" blog "gaje" (gak jelas) ini. Semoga Allah Swt. melimpahkan karunia tanpa batas atas beliau dan keluarganya. Amin.
0

Melebihi Kisah 1001 Malam: Kisah Sejati Cinta Sejati sumber asli: Melebihi Kisah 1001 Malam: Kisah Sejati Cinta Sejati |



Muhammad-word-on-the-moon
Mengenang perjalanan bahtera rumah tangga lelaki terbaik dan isteri mulia...


Saat itu, Muhammad tersenyum, mengangkat wajahnya sedikit, mengucapkan terima kasih, lalu kembali menunduk...



Khadijah: Sang Thahirah

Ia adalah Khadijah binti Khuwailid ibnu Asad ibnu Abdil Uzza ibnu Qushay. Persis di Qushay, kakeknya yang keempat, nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah. Ibu Khadijah bernama Fatimah binti Zaidah. Nenek Khadijah dari pihak ibnu bernama Halah binti Abdi Manaf. Abdu Manaf sendiri adalah kakek ketiga Rasulullah. Jadi, dari pihak ayah maupun ibu, Rasulullah dan Khadijah memiliki hubungan kekerabatan yang dekat.

Ayah Khadijah, Khuwailid, terkenal sebagai lelaki yang cerdas, kaya, terhormat, berakhlak mulia, jujur, dan tepercaya. Khadijah juga memeiliki saudara sepupu bernama Waraqah ibnu Naufal ibnu Asad, salah satu dari empat orang Arab yang menolak penyembahan berhala oleh kaum Quraisy.
Salah seorang dari mereka berkata,"Kaum kita telah menyalahi agama Ibrahim, leluhur mereka sendiri. Mereka menyembah batu yang tidak mendengar dan tidak melihat, yang tidak mendatangkan manfaat dan bahaya. Kita harus mencari agama yang benar."

Empat orang ini kemudian mencari jalan masing-masing. Mereka mencari hanifiyyah, agama Nabi Ibrahim. Setelah pencarian sekian lama, Waraqah akhirnya memeluk agama Nasrani dan mempelajarinya. Ia pun kemudian dianggap sebagai salah satu dari sedikit orang yang paling mengetahui ajaran agama Nasrani pada masanya.

Uraian singkat di atas menunjukkan bahwa Khadijah merupakan bagian dari keluarga yang memiliki garis keturunan paling terhormat di suku Quraisy. Keluarganya terkenal dengan akhlak yang mulia dan sikap beragama yang jauh dari perbuatan mengumbar nafsu.

Khadijah lahir lima belas tahun sebelum Rasulullah. Khadijah muda adalah seorang gadis cantik dan berperilaku baik. Suami pertamanya adalah Abu Halah an-Nabbasy ibnu Zurarah at-Taymi. Pernikahan ini berakhir ketika Abu Halah wafat meninggalkan dua anak laki-laki, Hindun dan Halah.

Khadijah kemudian menikah lagi dengan sepupunya sendiri yang bernama Athiq ibnu Aidz al-Makhzumi. Dari suaminya yang kedua ini, Khadijah memiliki seorang anak perempuan yang lagi-lagi diberi nama Hindun. Pernikahan ini pun berakhir dengan wafatnya sang suami.

Pada masa Jahiliah, Khadijah diberi gelar "wanita yang suci" (thahirah). Setelah dua kali menikah, banyak lelaki yang mencoba meminangnya dengan menawarkan sejumlah besar harta sebagai maskawin. Tetapi Khadijah menolak semua pinangan itu. Perhatiannya difokuskan pada upaya mengasuh anak dan mengelola perdagangan.



Dalam dunia perdagangan saat itu, Khadijah menjadi nama yang sangat diperhitungkan. hampir setiap kafilah memuat barang dagangannya dalam jumlah besar. Khadijah juga mempekerjakan orang-orang Quraish yang jujur dan tepercaya untuk mengawasi barang-barang dagangannya itu.



Suatu hari, Khadijah hendak mengirim kafilah dagang ke negeri Syam. ia mencari seseorang yang dapat diutusnya ke Syam untuk mengawasi dan memimpin rombongan dagang tersebut.

Saat itu masyarakat Mekah sedang ramai membicarakan Muhammad bin Abdullah, seorang pemuda yang bisa menjaga kejujuran dan keluhuran budi di tengah rekan-rekan sebayanya yang sibuk berfoya-foya. Khadijah berpikir, mengapa tidak Muhammad saja yang ia utus untuk menangani urusan-urusan perdagangan di Syam?

Muhammad adalah sosok yang jujur, dan kejujuran sangat penting dalam perdagangan. Tetapi, Khadijah tidak pernah mendengar Muhammad memiliki pengalaman berdagang. Pilihan itu sebenarnya berisiko. Khadijah hanya mengandalkan firasat dan nalurinya yang jarang salah. Akhirnya, Khadijah pun memanggil Muhammad dan mengajaknya berbincang-bincang mengenai perdagangan.

Dalam perbincangan itu, Khadijah menangkap kesan bahwa Muhammad merupakan seorang pemuda yang cerdas, santun, pandai menjaga diri, dan berpenampilan sempurna. Muhammad terlihat begitu tenang ketika diam dan terlihat begitu berpengaruh ketika berbicara. Ia selalu memperhatikan lawan bicaranya, mendengarkan dengan teliti, dan tidak pernah memperlihatkan sikap setengah-setengah.

Sebagai seorang pedagang yang berpengalaman, Khadijah tahu bahwa Muhammad adalah orang yang ia cari. Khadijah berkata, "Aku memanggilmu berdasarkan apa yang kudengar dari orang-orang tentang perkataanmu yang jujur, integritasmu yang tepercaya, dan akhlakmu yang mulia. Aku memilihmu dan kubayar engkau dua kali lipat dari apa yang biasa diterima orang lain dari kaummu."

Muhammad pun menerima tugas itu dengan senang hati.

[Sebuah saji ulang dari Khadijah Ummul Mu'minin; Nazharât fî Isyrâ Fajril Islâm oleh Abduk Mun'im Muhammad Umar yang diterbitkan di Indonesia dengan judul Khadijah: The True Love Story of Muhammad, Pena Pundi Aksara, cetakan IX, 2010]





Demikianlah momentum awal perjumpaan Khadijah dengan pemuda Muhammad yang digelari masyarakat Jahiliah sebagai al-Amin (yang tepercaya). Inilah juga titik awal kisah cinta yang menjadi penghulu segala kisah cinta di dunia (Islam). 

Sobat sekalian, yang namanya "galaw" karena pesona seseorang yang baru dikenal, bukan hanya monopoli para abege (anak baru gede) zaman sekarang. Galau juga pernah menghinggapi pikiran dan perasaan wanita matang seperti Siti Khadijah r.a. ketika itu.  :O 

Seperti apa galaunya pikiran dan perasaan Siti Khadijah r.a.  karena pemuda bernama Muhammad ini? 
Simak nanti di postingan untuk label Kisah selanjutnya ya..

sumber asli:
Melebihi Kisah 1001 Malam: Kisah Sejati Cinta Sejati | Muxlimo's Lair http://muxlimo.blogspot.com/2012/04/true-story-of-true-love-muhammad.html#ixzz1wv2gq2GY
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Share Alike
0

Pembuktian Tanda-Tanda dan Langkah Mewujudkan Cinta | Melebihi Kisah 1001 Malam sumber asli: Pembuktian Tanda-Tanda dan Langkah Mewujudkan Cinta | Melebihi Kisah 1001 Malam |




ramzygallery.com-membaca-tanda-tanda-kitab-suci
Master Piece Art from Feri Eka Candra | Ramzy Gallery


Bagian ketiga dari induk tulisan
Melebihi Kisah 1001 Malam: Kisah Sejati Cinta Sejati. | Rangkai kisah sebelum ini: Kepulangan Kafilah yang Dinanti | Melebihi Kisah 1001 Malam


MEMBACA TANDA, MEMBUKTIKAN NUBUWWAH

Pada kesempatan lain, Maysarah juga menghadap Khadijah dan bercerita tentang hal-hal aneh yang ditemuinya selama perjalanan. Ia acapkali menyaksikan awan berkumpul menaungi Muhammad yang sedang menunggang unta di padang pasir pada siang yang panas. 

Suatu hari, tutur Maysarah, Muhammad sedang bernaung di bawah sebuah pohon di dekat tempat pertapaan seorang rahib bernama Nasthura. Sang rahib bertanya kepada Maysarah mengenai Muhammad.  Maysarah menjawab bahwa Muhammad adalah seorang pemuda yang mulia dari suku Quraisy. Sang rahib kembali bertanya, "Apakah ada tanda merah di matanya?"
"Ya," jawab Maysarah.
Rahib itu kemudian berkata,"Pemuda yang duduk di bawah pohon itu adalah seorang nabi."

Pernah pula ada seorang lelaki berselisih dengan Muhammad. Maysarah menduga lelaki itu sengaja mencari-cari masalah. Ia berkata kepada Muhammad, "Bersumpahlah dengan nama Lata dan Uzza!"
Muhammad menolak dan berkata,"Aku tidak pernah bersumpah dengan nama keduanya."
"Engkau benar."

Lelaki itu pergi begitu saja. Tetapi, di luar pengetahuan Muhammad, lelaki tadi berkata pada Maysarah," Orang ini, demi Tuhan, adalah seorang nabi. Para pendeta kami telah menerangkan ciri-cirinya berdasarkan apa yang mereka baca dalam kitab suci."

Maysarah juga bercerita kepada Khadijah tentang tingkal laku Muhammad di sepanjang perjalanan. Semua itu menunjukkan kejujuran, keluhuran budi, dan kelembutan hatinya. 

Khadijah mulai berpikir dan menimbang-timbang semua cerita yang didengarnya itu. Ia tahu bahwa semua penduduk Mekah meraa kagum kepada Muhammad. Mereka percaya dengan kejujuran, integritas, dan kebersihan moralnya. Julukan yang beredar untuknya adalah al-amîn yang berarti 'orang yang dapat dipercaya'. Khadijah sendiri mengakui bahwa Muhammad adalah pemuda yang hampir sempurna.

Khadijah mulai bertanya-tanya. Perasaan apa yang ada di dalam hatinya. Mengapa ia merasa kagum ketika melihat Muhammad memasuki kota Mekah dengan untanya? Tidak salahkah penglihatannya ketika ia menyaksikan sendiri dua malaikat menaungi Muhammad? Rasa gembira ketika mendengar Muhammad memperoleh keuntungan besar di Syam; benarkah rasa itu muncul hanya karena kabar keuntungan finansial yang didapatnya? Bagaimana ia harus menyikapi cerita-cerita aneh yang dikabarkan oleh Maysarah?

Semua orang pada masa itu, termasuk Khadijah, tentu pernah mendengar ramalah para rahib mengenai seorang nabi yang akan muncul di jazirah Arab. Apakah Muhammad nabi yang ditunggu-tunggu itu? Dalam perjalanan ke Syam, Muhammad memang berhasil memperoleh laba besar dengan jumlah yang tidak pernah diperoleh oleh siapa pun sebelumnya. Apakah hal itu berhubungan dengan statusnya sebagai calon nabi?



Sebenarnya, Khadijah telah mencoba untuk tidak memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu. Tetapi, semakin keras ia berusaha untuk melupakannya, semakin sering pikiran-pikiran itu muncul di kepalanya. Dan anehnya, Khadijah merasa bahagia dengan semua itu. Ia bertanya-tanya, apakah pikiran itu lahir dari rasa kagum yang sama seperti apa yang dirasakan oleh orang-orang Quraisy?

Di ujung rasa bimbangnya, Khadijah pergi menemui sepupunya, Waraqah ibnu Naufal. Mendengar cerita Khadijah, ada rasa bahagia yang aneh dirasakan oleh Waraqah. Ia bangkit lalu berkata bahwa berdasarkan kitab-kitab suci yang pernah dibacanya, Allah akan mengutus seorang rasul terakhir dari anak keturunan Isma'il yang lahir di dekat baitullah.

Waraqah kemudian terdiam. Ia berpikir serius, lalu berkata,
"Wahai Khadijah, jika apa yang kupikirkan ini benar, maka Muhammad pastilah seorang nabi. Yang kutahu dengan pasti, seorang nabi akan muncul dari bangsa ini. Dan sekaranglah saat kemunculannya."

Waraqah juga berharap dirinya dikaruniai umur panjang sehingga ia bisa beriman, mengikuti ajaran-ajaran nabi itu, dan membelanya menghadapi musuh-musuhnya. Di akhir pembicaraan, Waraqah melantunkan syair,


Bertahan aku dengan ingatan
tentang sedih yang melahirkan jeritan
hingga engkau, Khadijah, datang kepadaku
Betapa lama, Khadijah, aku menunggu!




LANGKAH MENUJU PINANGAN


webdesign.org-langkah-mewujudkan-cinta
Love Puzzle | webdesign.org
Khadijah percaya sepenuhnya akan kebenaran pernyataan Waraqah. Ia tahu bahwa cinta yang tumbuh di hatinya adalah perasaan yang wajar bagi wanita mulia yang mendambakan seorang pendamping hidup yang dapat dipercaya. Bahkan ia juga meyakini bahwa rasa cinta itu merupakan anugerah Tuhan keapada dirinya, bahwa Tuhan menghendakinya untuk terlibat dalam rencana besar-Nya bagi manusia.

Akhirnya, meski sempat ragu, Khadijah kemudian memutuskan untuk menikah dengan Muhammad dan mengambil inisiatif untuk meminangnya. Tetapi, masih ada satu pertanyaan yang harus ia jawab: siapa yang dapat menjamin bahwa Muhammad akan menerima pinangannya?

Khadijah adalah wanita yang kaya, cantik, dan berstatus sosial tinggi. Ia masih memiliki pesona bagi banyak laki-laki. Di sisi lain, Muhammad bukanlah lelaki yang rakus dan gampang tergoda oleh hal-hal yang bersifat lahiriah. Tetapi, Khadijah tahu bahwa walau bagaimanapun, Muhammad tetaplah seorang pemuda. Adalah haknya untuk mencintai seorang gadis yang sebaya.

Dengan mempertimbangkan hal-hal tadi, Khadijah memilih untuk menggunakan sebuah siasat. Ia mengutus seorang wanita yang ia yakini kemampuan dan loyalitasnya untuk secara diam-diam melakukan pendekatan awal kepada Muhammad. Wanita yang dipercayainya untuk mengemban tugas itu adalah Nafisah binti Umayyah yang masih kerabat dekat Muhammad dan saudara perempuan bagi seorang lelaki yang kemudian menjadi salah satu sahabat Nabi yang terkemuka, Ya'la ibnu Umayyah.

Nafisah mendatangi Muhammad dan menasihatinya seperti seorang ibu menasihati anaknya. Ia mencoba untuk meyakinkan Muhammad tentang pentingnya menikah. Muhammad menjawab bahwa dirinya hanya seorang miskin yang tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepada wanita yang akan menajdi istrinya.

Nafisah membantah hal itu. Menurutnya, kemisikinan bukan halangan untuk menikah. Apalagi Muhammad telah lama dikagumi oleh penduduk Mekah karena akhlak dan kejujurannya. Karena itu, menurut Nafisah, semua orang tua tentu mengharapkan Muhammad datang dan meminang putri mereka.

Setelah Muhammad dapat diyakinkan tentang pentingnya menikah, barulah Nafisah menyatakan bahwa wanita yang paling patut menjadi istrinya adalah Khadijah. Alasannya sederhana. Khadijah adalah wanita yang cantik, kaya, bagus nasabnya, pandai menjaga kehormatan, dan luhur akhlaknya. Masyarakat pun menjukukinya "wanita yang suci".

Mengetahui pilihan Nafisah, Muhammad pun terkejut. Menurutnya, Nafisah berlebihan. Dari mana ia akan memperoleh harata untuk membayar mahar Khadijah? Nafisah menjawab bahwa kalau Muhammad setuju untuk menikah dengan Khadijah, urusan mahar tidak perlu dipikirkan.

Nafisah menceritakan proses "diplomasi" awal yang dilakukannya itu dalam sebuah riwayat. Ia berkata,
"Khadijah pernah mengutusku sebagai perantara kepada Muhammad setelah ia pulang dari Syam. Kukatakan kepadanya, 'Apa yang menghalangimu untuk menikah?' Muhammad menjawab, 'Aku orang miskin yang tidak punya harta.' Kukatakan, 'Jika aku tanggung semua keperluanmu untuk menikah dan kupilihkan seorang wanita yang cantik, kaya, mulia, dan cocok untukmu, maukah engkau menikah?' Muhammad kembali bertanya, 'Siapa wanita itu?' Aku menjawab, 'Khadijah.' Muhammad kembali bertanya, 'Bagaimana mungkin?' Kukatakan, 'Aku yang akan mengaturnya.'"
[Bersambung]

sumber asli: Pembuktian Tanda-Tanda dan Langkah Mewujudkan Cinta | Melebihi Kisah 1001 Malam | Muxlimo's Lair http://muxlimo.blogspot.com/2012/04/holly-book-decoders-and-first-step-to.html#ixzz1wv2QT7Gz
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Share Alike
0

Kepulangan Kafilah yang Dinanti | Melebihi Kisah 1001 Malam sumber asli: Kepulangan Kafilah yang Dinanti | Melebihi Kisah 1001 Malam | Muxlimo's Lair http://muxlimo.blogspot.com/2012/04/kepulangan-kafilah-yang-dinanti.html#ixzz1wv24FWEK Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Share Alike




kafilah-yang-dinanti__gambar-dari-twiinlovez.blogspot.com-
sekadar illustrasi


Secara pribadi, Khadijah juga berpikir tentang apa yang sebenarnya menghubungkan dirinya dengan Muhammad. Mengapa bayangan Muhammad selalu muncul siang-malam tanpa ia kehendaki?


Setelah menerima tugas dari Khadijah, Muhammad bergegas menuju pamannya, Abu Thalib, untuk menceritakan tawaran kerja yang baru diterimanya. Abu Thalib pun turut bergembira. Ia berkata, "Ini adalah rezeki yang Allah* berikan kepadamu."

* kita tidak tahu pasti penyebutan Allah di sini, sebab waktu itu Islam belum turun dan Abu Thalib sendiri adalah penyembah berhala hingga akhir hayatnya. Di satu sisi, seumur hidup Muhammad Rasulullah tidak pernah mengakui tuhan-tuhan berhala itu. Kemungkinan penyebutan ini disesuaikan penulis syirah untuk kita, umat Muhammad Saw. masa kini.


Sementara itu, Khadijah ternyata mengamati gambaran fisik Muhammad. Cara ia berjalan menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi. Posturnya seimbang, tidak terlalu pendek dan tidak terlalu tinggi, tidak terlalu gemuk dan tidak pula terlalu kurus.

Khadijah juga ingat bahwa selama berbincang-bincang dengannya, Muhammad selalu menundukkan wajahnya. Hanya sekali, seingatnya, Muhammad mengangkat wajahnya, yaitu ketika Khadijah menawarkan tugas menjalankan urusan perdagangan di Syam. Saat itu, Muhammad tersenyum, mengangkat wajahnya sedikit, lalu mengucapkan terima kasih, lalu kembali menunduk.

Muhammad memiliki kening yang lebar, dagu yang lepas, dan leher yang jenjang. Dadanya bidang. Matanya indah dan lebar dengan bola mata yang hitam pekat. Giginya putih cemerlang.

Agak mengherankan bahwa Khadijah memperhatikan semua itu. Ketampanan dan kegagahan Muhammad memang mampu memikat banyak orang. Tetapi, bukankah Khadijah memanggilnya untuk urusan bisnis? Tampaknya Khadijah tertarik kepada  pribadi pemuda ini. Alangkah lembutnya keindahan yang terpancar dari wajah Muhammad. Alahngkah indahnya senyum tipis yang menghias wajahnya. Khadijah merasa bahwa apa yang ramai dibicarakan penduduk Mekah tentang Muhammad bukan merupakan isapan jempol belaka.

Hari keberangkatan pun tiba. Penduduk Mekah, termasuk para paman Muhammad, beramai-ramai mengantar kafilah ke perbatasan kota. Kafilah pun bertolak menuju Syam.

Dalam ekspedisi dagang ke Syam ini, Muhammad dibantu oleh seorang laki-laki bernama Maysarah. Khadijah berpesan agar Maysarah tidak membantah perintah Muhammad ataupun menentang pendapatnya.

Urusan perdagangan di Syam (sekarang Suriah) ternyata berjalan lancar. Barang-barang habis terjual. Laba yang luar biasa besar pun didapat. Sebelum pulang, kafilah ini membeli barang-barang lain untuk dijual kembali di Mekah.

Setelah semua urusan selesai, kafilah ini pun beranjak pulang. Sesampainya di sebuah lembah—sekarang terkenal dengan nama Wâdî Fâthimah—di luar Mekah. Maysarah berkata kepada Muhammad, "Pergilah kepada Khadijah. Laporkan semua yang engkau alami dan keuntungan yang engkau peroleh dalam ekspedisi ini."

Muhammad lalu maju bersama para pemuda lain yang baru saja datang dari pejalanan jauh. Mereka memasuki kota diikuti kafilah yang berjalan perlahan di belakang mereka. Para lelaki menyambut kedatangan mereka di jalan-jalan. Para wanita memandangi mereka dari atas rumah.


Jalur-ekspedisi-dagang-perdana-Muhammad-sebelum-menjadi-nabi
Jalur ekspedisi dagang perdana Muhammad Saw. sebelum kenabian.
[klik untuk memperbesar gambar]


Saat itu siang hari. Khadijah bersama beberapa wanita lain berada di sebuah ruangan di bagian atas rumahnya. Ia dapat melihat Muhammad yang sedang menunggang unta kecil berwarna merah memasuki kota. Ada dua malaikat menaunginya. Para wanita itu terkejut. Betapa gagah Muhammad. Betapa agung wibawa yang dipancarkannya. Betapa dari jauh ia terlihat begitu indah dan mengesankan.

Sebagaimana tradisi yang biasa dilakukan para pembesar Quraisy selepas pulang dari perjalanan dagang, Muhammad pun langsung menuju Ka'bah untuk melakukan thawaf. Setelah itu barulah ia menghadap Khadijah.

Kepada Khadijah, Muhammad melaporkan semua hal yang dialaminya selama perjalanan, termasuk keuntungan besar yang diperolehnya dan barang-barang dagangan yang dibelinya di Syam. Khadijah menerima laporan itu dengan gembira. Apalagi setelah diketahui bahwa barang-barang yang dibawa dari Syam berhasil dijual kembali di Mekah dengan keuntungan yang berlipat ganda.

Pada kesempatan lain, Maysarah juga menghadap Khadijah dan bercerita tentang hal-hal aneh yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Khadijah mulai berpikir dan menimbang-timbang semua cerita yang didengarnya itu. Ia tahu bahwa semua penduduk Mekah merasa kagum kepada Muhammad. Mereka percaya dengan kejujuran, integritas, dan kebersihan moralnya. Khadijah sendiri mengakui bahwa Muhammad adalah pemuda yang nyaris sempurna.

Khadijah mulai bertanya-tanya. Perasaan apa yang ada di dalam hatinya. Mengapa ia merasa kagum ketika melihat Muhammad memasuki kota Mekah dengan untanya? Tidak salahkah penglihatannya ketika ia menyaksikan sendiri dua malaikat menaungi Muhammad? Rasa gembira ketika mendengar Muhammad memperoleh keuntungan besar di Syam; benarkah rasa itu muncul hanya karena kabar keuntungan finansial yang didapatnya? Bagaimana ia harus menyikapi cerita-cerita aneh yang dikabarkan oleh Maysarah?

Sebenarnya, Khadijah telah mencoba untuk tidak memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu. Tetapi semakin keras ia berusaha untuk melupakannya, semakin sering pikiran-pikiran itu muncul di kepalanya. Dan, anehnya, Khadijah merasa bahagia dengan semua itu. Ia bertanya-tanya, apakah pikiran itu lahir dari rasa kagum yang sama seperti apa yang dirasakan oleh orang-orang Quraisy?

Khadijah tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu. Ia, seorang wanita yang dikenal dengan kecerdikan dan ketajaman pikiran, ternyata tidak dapat menangani persoalan yang terkesan sederhana ini.  Di ujung rasa bimbangnya, Khadijah pergi menemui sepupunya, Waraqah ibnu Naufal.

Waraqah memeluk Nasrani sejak muda. Ia adalah seorang yang tekun menyembah Tuhan, menjauhi berhala, dan mempelajari kitab-kitab suci agama terdahulu. Mendengar cerita Khadijah, ada rasa bahagia yang aneh dirasakan oleh Waraqah.

Perbincangan dengan Waraqah menimbulkan kesan mendalam di hati Khadijah. Ia kembali memikirkan Muhammad, pemuda yang mengagumkan itu.

Secara pribadi, Khadijah juga berpikir tentang apa yang sebenarnya menghubungkan dirinya dengan Muhammad. Mengapa bayangan Muhammad selalu muncul siang-malam tanpa ia kehendaki?

Telah banyak pinangan lelaki yang ditolak oleh Khadijah karena ia berpikir bahwa mereka hanya menghendaki harta dan status sosialnya. Tetapi, Muhammad berbeda dengan mereka. Rasa hormat dan cinta kepadanya tumbuh perlahan-lahan hingga akhirnya mencengkeram hati dan perasaan. Apakah ini juga bagian dari takdir Tuhan? Khadijah bertanya, inikah balasan untuk dirinya dari Tuhan atas perbuatan baik, sifat dermawan, serta keteguhannya menjaga diri dan kehormatan?

Ia tahu bahwa cinta yang tumbuh di hatinya adalah perasaan yang wajar bagi wanita mulia yang mendambakan pendamping hidup yang dapat dipercaya. Bahkan ia juga meyakini bahwa rasa cinta itu merupakan anugerah Tuhan kepada dirinya, bahwa Tuhan menghendakinya untuk terlibat dalam rencana besar-Nya bagi manusia.

Akan tetapi, Khadijah juga sempat ragu. Pantaskah ia menikah dengan Muhammad? Selama ini, ia yakin bahwa ia harus menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Karena hal itulah ia menolak semua pinangan yang datang. Ia  lebih memilih untuk hidup bersama anak-anaknya dan memusatkan perhatiannya untuk dalam bidang perdagangan. Apa kata para pemuka Qurais jika mendengar Khadijah meminang seorang pemuda untuk dirinya sendiri?

Dalam tradisi Arab, seorang wanita hanya boleh menunggu lamaran dari laki-laki. Tetapi Khadijah bukan lagi seorang perawan muda yang tidak berpengalaman. Sebaliknya, Khadijah justru telah mempekerjakan banyak laki-laki untuk menangani urusan-urusan bisnisnya. Apa salahnya ia memilih sendiri laki-laki yang dapat mendampingi dan membahagiakannya?

Berbekal pengalamannya dalam dunia perdagangan, Khadijah juga memahami bahwa keteguhan dan inisiatif merupakan dua hal yang sangat menentukan kesuksesan. Khadijah sendiri adalah wanita yang sangat teguh memegang pendiriannya apabila ia yakin bahwa pendiriannya itu baik dan benar. Keteguhan dan inisiatif itu yang menjadikannya memilih dan mengutus Muhammad ke Syam. Apa salahnya jika ia memilih Muhammad sekali lagi untuk menjadi pendamping hidupnya? [bersambung]

[Sebuah sajian ulang dari Khadijah Ummul Mu'minin; Nazharât fî Isyrâ Fajril Islâm oleh Abdul Mun'im Muhammad Umar yang diterbitkan di Indonesia dengan judul Khadijah: The True Love Story of Muhammad, Pena Pundi Aksara, cetakan IX, 2010]


Nah, Sobat sekalian, penggambaran detail solilokui/monolog batin Khadijah di atas menunjukkan bahwa tokoh "ibu-akidah" kita ini adalah sosok seorang wanita mandiri, baik secara finansial maupun emosional. Tidak ada bedanya dengan "juragan-juragan putri" masa kini 'kan?! :D


Lihatlah, betapa Islam dimulai dengan penghargaan yang tinggi akan kebebasan berpikir dan menentukan nasib sendiri. Lihatlah betapa sejak turun pun Islam menghormati kaum perempuan. Jika tidak, tentu Allah tidak akan menakdirkan Muhammad bertemu Khadijah sedemikian rupa sehingga menjadi tonggak sejarah turunnya karunia bagi seluruh alam.

Jadi, tak perlu lagi manusia masa kini yang lebih "modern" meng-ada-ada-kan yang sudah ada sejak awal: tidak perlu mengusung feminisme palsu. Mengapa? Karena mengada-adakan yang sudah ditetapkan Allah akan ada-nya adalah perbuatan menyimpang yang justru mengaburkan makna atas hal yang sudah jelas. Bahkan, ini bisa dimanfaatkan oleh jiwa-jiwa busuk yang menghendaki kehancuran fitrah manusia. Berpikirlah. Waspadalah. Yang sudah ada jangan diada-adakan lagi. Nanti terlalu kelihatan meng-ada-adanya, Pren. Hehehe.

Meng-ada-ada-kan hal yang sudah Allah tetapkan ada akan merusak dan menyimpangkan makna hakikinya.

Meniada-tiadakan hal yang sudah Allah tetapkan tiadanya, akan menjadikannya semakin ada dalam rupa kepalsuan yang besar.

Kembali ke kisah, kita semua pastinya sudah bisa menerka "kejadian-kejadian aneh" apa yang disaksikan oleh Maysarah selama ekspedisi dagang ke Syam itu. Kita juga bisa menerka apa yang membuat Waraqah ibnu Naufal merasakan kebahagiaan yang misterius ketika itu. Akan tetapi, dari cerita detailnya nanti, kita akan semakin kenal dan semakin takjub atas karunia Allah atas junjungan kita ini. Tentunya, ini menambah kebanggaan kita sebagai "anak-anak akidah" beliau.

Akan tetapi, tentu pertanyaan paling menggelitik adalah

Bagaimana cara seorang entrepeneur wanita sekelas Khadijah mewujudkan cintanya pada pemuda Muhammad?


Tunggu kelanjutan kisahnya setelah ini, insyaAllah. Sambil menunggu, tidak ada salahnya Sobat mengklik tautan di bawah ini agar otomatis tahu ketika lanjutannya sudah tersedia di sini. (Bisa berhenti berlangganan jika di kemudian hari Sobat berubah pikiran, ya)

sumber asli:
Kepulangan Kafilah yang Dinanti | Melebihi Kisah 1001 Malam | Muxlimo's Lair http://muxlimo.blogspot.com/2012/04/kepulangan-kafilah-yang-dinanti.html#ixzz1wv28kqGg
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Share Alike
0

Pinangan Bersambut, Bahtera Mengangkat Sauh



Upaya pendekatan yang dilakukan Nafisah ini sebenarnya bermakna penting. Tidak saja penting bagi Khadijah, tetapi juga bagi sejarah manusia secara umum. Jika Khadijah terbukti berperan penting bagi kesuksesan Rasulullah menunaikan misi risalahnya, maka siapa pun yang membantu pernikahan mereka harus dipandang sebagai bagian penting dari proses penyebaran Islam ke seluruh dunia.

Dengan meminang Muhammad, Khadijah sebenarnya sedang menciptakan sebuah tradisi yang memihak dan menghormati wanita. Jika wanita berhak untuk mengatur urusan-urusannya sendiri, mengapa ia tidak boleh memilih seorang lelaki untuk menjadi pendamping hidup dan ayah bagi anak-anaknya? Apalagi Khadijah tidak memilih calon suami yang kaya. Pilihannya atas Muhammad lebih didasarkan atas budi pekerti yang mulia dan perilaku yang luhur. Muhammad juga terbukti mampu menjaga dan mengembangkan aset-aset bisnisnya.

Akan tetapi, bukan hal itu saja yang dipelajari dari kisah ini. Setelah Nafisah memberi tahu hasil pendekatannya, Khadijah lalu mengundang Muhammad ke kediamannya. Di sana, dengan berani, Khadijah mengungkapkan secara langsung pinangannya. Hal ini menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi sekaligus keberanian menuntut hak dan menyampaikan aspirasi tanpa perantara. Khadijah memperlihatkan bahwa wanita mampu menangani urusan-urusannya sendiri, berhak melakukan apa pun demi mencapai kebahagiaan, serta boleh menerima siapa pun yang pantas menjadi tamunya.

Nafisah memang membantunya melakukan pendekatan awal untuk menjajakikemungkinan Muhammad menerima pinangannya. Tetapi setelah itu, Khadijah menjalani sendiri proses yang harus dilalukannya. Perhatikan ucapan Khadijah kepada Muhammad berikut ini.

"Wahai anak pamanku, aku berhasrat menikah denganmu atas dasar kekerabatan, kedudukanmu yang mulia, akhlakmu yang baik, integritas moralmu, dan kejujuran perkataanmu."

Muhammad menerimanya. Hari pernikahan yang ditunggu-tunggu itu pun datang. Muhammad didampingi oleh bani Hasyim yang dipimpin oleh Abu Thalib dan Hamzah. Hadi juga bersamanya, bani Mudhar, sedangkan Khadijah didampingi oleh bani Asad yang dipimpin oleh Amr ibnu Asad.

Pidato pernikahan disampaikan oleh Abu Thalib. Ia menyampaikan, “Segala puji bagi Allah yang telah melahirkan kita sebagai anak keturunan Ibrahim dan Ismail. Segala puji bagi-Nya yang telah menjadikan kita penjaga rumah-Nya. Dia menjadikan kediaman kita aman dan diziarahi banyak orang. Dia pula yang menjadikan kita berkuasa atas orang-orang. Keponakanku ini, Muhammad ibnu Abdillah tidak bisa dibandingkan dengan pemuda mana pun; ia pasti mengungguli mereka. Ia memang tidak kaya. Tetapi, bukankah kekayaan akan berubah dan menghilang? Dan kalian tahu di dalam keluarga seperti apa Muhammad dilahirkan. Hari ini, Muhammad menikahi Khadijah binti Khuwailid denga mahar yang seluruhnya menjadi tanggunganku. Ini akan menjadi berita besar dan kehormatan yang agung.”

Setelah Abu Thalib selesai menyampaikan pidatonya, berdirilah Amr ibnu Asad, paman Khadijah dan pemimpin kaumnya. Ia menyampaikan pujian bagi Muhammad dan mengumumkan pernikahannya dengan Khadijah. Dengan itu, resmilah pernikahan keduanya.

Pernikahan itu sendiri dilaksanakan setelah 2 bulan 15 hari setelah Muhammad datang dari Syam. Mahar yang diberikan kepada Khadijah adalah 20 ekor unta. Usia Muhammad saat itu adalah 25 tahun, sedangkan Khadijah berusia 40 tahun.

Diriwayatkan dari Hakim ibnu Hazm ibnu Khuwailid, keponakan Khadijah, “Rasulullah saw. Menikah pada usia 25 tahun, sedangkan Khadijah 2 tahun lebih tua daripada aku. Ia dilahirkan 15 tahun sebelum Tahun Gajah dan aku dilahirkan 13 tahun sebelum Tahun Gajah.”
Pesta pernikahan pun tiba. Dua ekor unta besar disembelih untuk keperluan pesta. Dagingnya dibagi-bagikan kepada keluarga, kawan-kawan, dan para fakir miskin. Suasana semakin meriah dengan bunyi tetabuhan dan nyanyian. Semua orang bergembira.


pondokhabib.wordpress.com-poster-doa-keluarga-sakinah


Hidup baru membentang di hadapan kedua pengantin. Kebahagiaan memenuhi perasaan Khadijah. Pernikahan ini lebih indah daripada apa yang ia bayangkan. Khadijah sadar bahwa apa yang ia dengar tentang kebaikan Muhammad ternyata tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang ia saksikan sendiri.

Muhammad selalu menampakkan sifat sabar dan tabah. Ia juga jujur. Apa yang ditampakkannya dalam perbuatan lahiriah tidak pernah bertentangan dengan apa yang ada di dalam hatinya. Ia dermawan. Tidak pernah menolak membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Ia bersedekah tanpa pernah takut hartanya akan habis. Dan hal itu terbukti. Harta di tangannya selalu bertambah sebanyak apa yang ia keluarkan.

Muhammad juga sangat rendah hati. Ia tidak malu melayani dirinya sendiri. Tidak pernah ia menunggu uluran tangan pembantu dalam menangani urusan rumah tangganya. Jika Muhammad memiliki pembantu, ia yang justru menolong mereka dalam tugas-tugas yang mereka lakukan. Tidak ada pembantu yang dibebani dengan kerja berlebihan di luar batas kemampuan.


annashradio.com-keluarga-sakinah

Semua orang dalam rumah tangga sepasang suami istri ini merasakan kebaikan hati Muhammad. Ia selalu mengutamakan mereka atas dirinya sendiri. Mereka selalu berbagi kebaikan dan kesenangan bersamanya.

Dalam urusan bisnis dan perdagangan, Muhammad juga berperan sangat penting. Sebagian besar waktunya dicurahkan untuk menjalankan usaha dagang yang dirintis sekian lama oleh istrinya. Tidak pernah Muhammad terlihat bermalas-malasan. Ia selalu bersemangat dan bersungguh-sungguh.

Muhammad tidak pernah memaksakan kehendaknya. Ia selalu bermusyawarah dengan Khadijah dalam urusan-urusan yang mereka tangani bersama. Ia juga merupakan pendengar yang baik dan penuh perhatian. Tidak pernah ia mengecewakan atau menolak permintaan istrinya.

Khadijah tentu sangat berbahagia dengan pernikahannya. Ia merasa tidak perlu lagi mengurus usaha dagangnya. Semua diserahkannya kepada Muhammad, suaminya. Perhatian Khadijah sepenuhnya dipusatkan pada bagaimana melayani dan mencintai suaminya serta menangani urusan-urusan rumah tangga.

Bagaimana dengan ketiga anak Khadijah dari perkawinannya terdahulu? Mereka ternyata tetap tinggal bersama Khadijah dan Muhammad, dua orang yang mencintai mereka. Ketiganya kemudian memeluk Islam dan menjadi asisten Rasulullah yang paling setia. Tidak banyak karya sejarah yang menulis ketiga anak Khadijah itu. Tampaknya, kehidupan Rasulullah menyita perhatian yang sangat besar dari kalangan sejarawan dan menjadikan kehidupan orang-orang lain sedikit terabaikan. Kami akan mengkaji kehidupan mereka bertiga dalam pembahasan tersendiri.

Waktu dan perhatian Muhammad terbagi antara urusan-urusannya sendiri, urusan-urusan keluarga, urusan-urusan perdagangan, dan urusan-urusan para kerabatnya. Ia mampu bersikap adil dalam semua itu. Tidak ada kepentingan pihak mana pun yang harus dikorbankan demi kepentingan pihak lain.

Sebagai salah satu bentuk rasa syukur atas semua nikmat yang diterimanya dari Allah, Muhammad membebaskan seorang budak wanita berkebangsaan Habasyah (sekarang Ethiopia) yang diwarisinya dari ayahnya dulu. Budak itu bernama Barakah. Ia yang pernah mengasuh Muhammad selepas kematian ibunya, Aminah binti Wahb. Muhammad begitu mencintai Barakah. Muhammad selalu bersikap ramah kepadanya dan memanggilnya dengan panggilan, “Wahai Ibunda!” di depan orang-orang. Muhammad selalu menyebutnya sebagai bagian dari keluarganya.

Setelah dibebaskan, Barakah menikah dengan Ubaid ibnu Zaid, seorang lelaki dari bani Harits. Dari pernikahan ini, lahirlah Ayman ibnu Ubaid, seorang anak yang kemudian sangat disukai oleh Muhammad. Sejak kelahiran anak itu, Barakah terkenal dengan nama Ummu Ayman ‘ibunya Ayman’.

Setelah beranjak dewasa, Ayman menjadi salah seorang sahabat terdekat Muhammad Rasulullah. Ia merupakan bagian dari orang-orang pertama yang masuk Islam. Kisah kepahlawanan pemuda ini diabadikan Abbas dalam sebuah syair.



                          Kita bertujuh telah menolong Rasulullah,
                          ketika semua orang lari ketakutan
                          di sana, orang kedelapan menghadapi musuh 
     
                          sendirian
      
                          demi Islam, tak pernah takut ia terima serangan.



romeomodels.com-Muslim-Warrior-50
Lima dari tujuh orang yang tidak ikut melarikan diri pada Perang Hunain adalah keluarga Nabi, yaitu Abbas, Ali ibnu Abi Thalib, Fadhl ibnu Abbas, Abu Sufyan ibnu Harits ibnu Abdil Muthalib, dan Usamah ibnu Zaid. Dua orang lainnya adalah sahabat-sahabat terdekat Rasulullah, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar ibnu Khaththab. Lalu siapakah orang kedelapan yang bertempur dengan gagah berani dalam syair tersebut? Dialah Ayman ibnu Ubaid.
[InsyaAllah bersambung pada subjudul:
Kegundahan Khadijah dan Abul-Qasim]

sumber asli: Pinangan Bersambut, Bahtera Mengangkat Sauh | Muxlimo's Lair http://muxlimo.blogspot.com/2012/04/pinangan-bersambut-bahtera-mengangkat.html#ixzz1wv1CytKh
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Share Alike