0
Selasa, 05 Juni 2012

Melebihi Kisah 1001 Malam: Kisah Sejati Cinta Sejati sumber asli: Melebihi Kisah 1001 Malam: Kisah Sejati Cinta Sejati |



Muhammad-word-on-the-moon
Mengenang perjalanan bahtera rumah tangga lelaki terbaik dan isteri mulia...


Saat itu, Muhammad tersenyum, mengangkat wajahnya sedikit, mengucapkan terima kasih, lalu kembali menunduk...



Khadijah: Sang Thahirah

Ia adalah Khadijah binti Khuwailid ibnu Asad ibnu Abdil Uzza ibnu Qushay. Persis di Qushay, kakeknya yang keempat, nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah. Ibu Khadijah bernama Fatimah binti Zaidah. Nenek Khadijah dari pihak ibnu bernama Halah binti Abdi Manaf. Abdu Manaf sendiri adalah kakek ketiga Rasulullah. Jadi, dari pihak ayah maupun ibu, Rasulullah dan Khadijah memiliki hubungan kekerabatan yang dekat.

Ayah Khadijah, Khuwailid, terkenal sebagai lelaki yang cerdas, kaya, terhormat, berakhlak mulia, jujur, dan tepercaya. Khadijah juga memeiliki saudara sepupu bernama Waraqah ibnu Naufal ibnu Asad, salah satu dari empat orang Arab yang menolak penyembahan berhala oleh kaum Quraisy.
Salah seorang dari mereka berkata,"Kaum kita telah menyalahi agama Ibrahim, leluhur mereka sendiri. Mereka menyembah batu yang tidak mendengar dan tidak melihat, yang tidak mendatangkan manfaat dan bahaya. Kita harus mencari agama yang benar."

Empat orang ini kemudian mencari jalan masing-masing. Mereka mencari hanifiyyah, agama Nabi Ibrahim. Setelah pencarian sekian lama, Waraqah akhirnya memeluk agama Nasrani dan mempelajarinya. Ia pun kemudian dianggap sebagai salah satu dari sedikit orang yang paling mengetahui ajaran agama Nasrani pada masanya.

Uraian singkat di atas menunjukkan bahwa Khadijah merupakan bagian dari keluarga yang memiliki garis keturunan paling terhormat di suku Quraisy. Keluarganya terkenal dengan akhlak yang mulia dan sikap beragama yang jauh dari perbuatan mengumbar nafsu.

Khadijah lahir lima belas tahun sebelum Rasulullah. Khadijah muda adalah seorang gadis cantik dan berperilaku baik. Suami pertamanya adalah Abu Halah an-Nabbasy ibnu Zurarah at-Taymi. Pernikahan ini berakhir ketika Abu Halah wafat meninggalkan dua anak laki-laki, Hindun dan Halah.

Khadijah kemudian menikah lagi dengan sepupunya sendiri yang bernama Athiq ibnu Aidz al-Makhzumi. Dari suaminya yang kedua ini, Khadijah memiliki seorang anak perempuan yang lagi-lagi diberi nama Hindun. Pernikahan ini pun berakhir dengan wafatnya sang suami.

Pada masa Jahiliah, Khadijah diberi gelar "wanita yang suci" (thahirah). Setelah dua kali menikah, banyak lelaki yang mencoba meminangnya dengan menawarkan sejumlah besar harta sebagai maskawin. Tetapi Khadijah menolak semua pinangan itu. Perhatiannya difokuskan pada upaya mengasuh anak dan mengelola perdagangan.



Dalam dunia perdagangan saat itu, Khadijah menjadi nama yang sangat diperhitungkan. hampir setiap kafilah memuat barang dagangannya dalam jumlah besar. Khadijah juga mempekerjakan orang-orang Quraish yang jujur dan tepercaya untuk mengawasi barang-barang dagangannya itu.



Suatu hari, Khadijah hendak mengirim kafilah dagang ke negeri Syam. ia mencari seseorang yang dapat diutusnya ke Syam untuk mengawasi dan memimpin rombongan dagang tersebut.

Saat itu masyarakat Mekah sedang ramai membicarakan Muhammad bin Abdullah, seorang pemuda yang bisa menjaga kejujuran dan keluhuran budi di tengah rekan-rekan sebayanya yang sibuk berfoya-foya. Khadijah berpikir, mengapa tidak Muhammad saja yang ia utus untuk menangani urusan-urusan perdagangan di Syam?

Muhammad adalah sosok yang jujur, dan kejujuran sangat penting dalam perdagangan. Tetapi, Khadijah tidak pernah mendengar Muhammad memiliki pengalaman berdagang. Pilihan itu sebenarnya berisiko. Khadijah hanya mengandalkan firasat dan nalurinya yang jarang salah. Akhirnya, Khadijah pun memanggil Muhammad dan mengajaknya berbincang-bincang mengenai perdagangan.

Dalam perbincangan itu, Khadijah menangkap kesan bahwa Muhammad merupakan seorang pemuda yang cerdas, santun, pandai menjaga diri, dan berpenampilan sempurna. Muhammad terlihat begitu tenang ketika diam dan terlihat begitu berpengaruh ketika berbicara. Ia selalu memperhatikan lawan bicaranya, mendengarkan dengan teliti, dan tidak pernah memperlihatkan sikap setengah-setengah.

Sebagai seorang pedagang yang berpengalaman, Khadijah tahu bahwa Muhammad adalah orang yang ia cari. Khadijah berkata, "Aku memanggilmu berdasarkan apa yang kudengar dari orang-orang tentang perkataanmu yang jujur, integritasmu yang tepercaya, dan akhlakmu yang mulia. Aku memilihmu dan kubayar engkau dua kali lipat dari apa yang biasa diterima orang lain dari kaummu."

Muhammad pun menerima tugas itu dengan senang hati.

[Sebuah saji ulang dari Khadijah Ummul Mu'minin; Nazharât fî Isyrâ Fajril Islâm oleh Abduk Mun'im Muhammad Umar yang diterbitkan di Indonesia dengan judul Khadijah: The True Love Story of Muhammad, Pena Pundi Aksara, cetakan IX, 2010]





Demikianlah momentum awal perjumpaan Khadijah dengan pemuda Muhammad yang digelari masyarakat Jahiliah sebagai al-Amin (yang tepercaya). Inilah juga titik awal kisah cinta yang menjadi penghulu segala kisah cinta di dunia (Islam). 

Sobat sekalian, yang namanya "galaw" karena pesona seseorang yang baru dikenal, bukan hanya monopoli para abege (anak baru gede) zaman sekarang. Galau juga pernah menghinggapi pikiran dan perasaan wanita matang seperti Siti Khadijah r.a. ketika itu.  :O 

Seperti apa galaunya pikiran dan perasaan Siti Khadijah r.a.  karena pemuda bernama Muhammad ini? 
Simak nanti di postingan untuk label Kisah selanjutnya ya..

sumber asli:
Melebihi Kisah 1001 Malam: Kisah Sejati Cinta Sejati | Muxlimo's Lair http://muxlimo.blogspot.com/2012/04/true-story-of-true-love-muhammad.html#ixzz1wv2gq2GY
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Share Alike
0

Pembuktian Tanda-Tanda dan Langkah Mewujudkan Cinta | Melebihi Kisah 1001 Malam sumber asli: Pembuktian Tanda-Tanda dan Langkah Mewujudkan Cinta | Melebihi Kisah 1001 Malam |




ramzygallery.com-membaca-tanda-tanda-kitab-suci
Master Piece Art from Feri Eka Candra | Ramzy Gallery


Bagian ketiga dari induk tulisan
Melebihi Kisah 1001 Malam: Kisah Sejati Cinta Sejati. | Rangkai kisah sebelum ini: Kepulangan Kafilah yang Dinanti | Melebihi Kisah 1001 Malam


MEMBACA TANDA, MEMBUKTIKAN NUBUWWAH

Pada kesempatan lain, Maysarah juga menghadap Khadijah dan bercerita tentang hal-hal aneh yang ditemuinya selama perjalanan. Ia acapkali menyaksikan awan berkumpul menaungi Muhammad yang sedang menunggang unta di padang pasir pada siang yang panas. 

Suatu hari, tutur Maysarah, Muhammad sedang bernaung di bawah sebuah pohon di dekat tempat pertapaan seorang rahib bernama Nasthura. Sang rahib bertanya kepada Maysarah mengenai Muhammad.  Maysarah menjawab bahwa Muhammad adalah seorang pemuda yang mulia dari suku Quraisy. Sang rahib kembali bertanya, "Apakah ada tanda merah di matanya?"
"Ya," jawab Maysarah.
Rahib itu kemudian berkata,"Pemuda yang duduk di bawah pohon itu adalah seorang nabi."

Pernah pula ada seorang lelaki berselisih dengan Muhammad. Maysarah menduga lelaki itu sengaja mencari-cari masalah. Ia berkata kepada Muhammad, "Bersumpahlah dengan nama Lata dan Uzza!"
Muhammad menolak dan berkata,"Aku tidak pernah bersumpah dengan nama keduanya."
"Engkau benar."

Lelaki itu pergi begitu saja. Tetapi, di luar pengetahuan Muhammad, lelaki tadi berkata pada Maysarah," Orang ini, demi Tuhan, adalah seorang nabi. Para pendeta kami telah menerangkan ciri-cirinya berdasarkan apa yang mereka baca dalam kitab suci."

Maysarah juga bercerita kepada Khadijah tentang tingkal laku Muhammad di sepanjang perjalanan. Semua itu menunjukkan kejujuran, keluhuran budi, dan kelembutan hatinya. 

Khadijah mulai berpikir dan menimbang-timbang semua cerita yang didengarnya itu. Ia tahu bahwa semua penduduk Mekah meraa kagum kepada Muhammad. Mereka percaya dengan kejujuran, integritas, dan kebersihan moralnya. Julukan yang beredar untuknya adalah al-amîn yang berarti 'orang yang dapat dipercaya'. Khadijah sendiri mengakui bahwa Muhammad adalah pemuda yang hampir sempurna.

Khadijah mulai bertanya-tanya. Perasaan apa yang ada di dalam hatinya. Mengapa ia merasa kagum ketika melihat Muhammad memasuki kota Mekah dengan untanya? Tidak salahkah penglihatannya ketika ia menyaksikan sendiri dua malaikat menaungi Muhammad? Rasa gembira ketika mendengar Muhammad memperoleh keuntungan besar di Syam; benarkah rasa itu muncul hanya karena kabar keuntungan finansial yang didapatnya? Bagaimana ia harus menyikapi cerita-cerita aneh yang dikabarkan oleh Maysarah?

Semua orang pada masa itu, termasuk Khadijah, tentu pernah mendengar ramalah para rahib mengenai seorang nabi yang akan muncul di jazirah Arab. Apakah Muhammad nabi yang ditunggu-tunggu itu? Dalam perjalanan ke Syam, Muhammad memang berhasil memperoleh laba besar dengan jumlah yang tidak pernah diperoleh oleh siapa pun sebelumnya. Apakah hal itu berhubungan dengan statusnya sebagai calon nabi?



Sebenarnya, Khadijah telah mencoba untuk tidak memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu. Tetapi, semakin keras ia berusaha untuk melupakannya, semakin sering pikiran-pikiran itu muncul di kepalanya. Dan anehnya, Khadijah merasa bahagia dengan semua itu. Ia bertanya-tanya, apakah pikiran itu lahir dari rasa kagum yang sama seperti apa yang dirasakan oleh orang-orang Quraisy?

Di ujung rasa bimbangnya, Khadijah pergi menemui sepupunya, Waraqah ibnu Naufal. Mendengar cerita Khadijah, ada rasa bahagia yang aneh dirasakan oleh Waraqah. Ia bangkit lalu berkata bahwa berdasarkan kitab-kitab suci yang pernah dibacanya, Allah akan mengutus seorang rasul terakhir dari anak keturunan Isma'il yang lahir di dekat baitullah.

Waraqah kemudian terdiam. Ia berpikir serius, lalu berkata,
"Wahai Khadijah, jika apa yang kupikirkan ini benar, maka Muhammad pastilah seorang nabi. Yang kutahu dengan pasti, seorang nabi akan muncul dari bangsa ini. Dan sekaranglah saat kemunculannya."

Waraqah juga berharap dirinya dikaruniai umur panjang sehingga ia bisa beriman, mengikuti ajaran-ajaran nabi itu, dan membelanya menghadapi musuh-musuhnya. Di akhir pembicaraan, Waraqah melantunkan syair,


Bertahan aku dengan ingatan
tentang sedih yang melahirkan jeritan
hingga engkau, Khadijah, datang kepadaku
Betapa lama, Khadijah, aku menunggu!




LANGKAH MENUJU PINANGAN


webdesign.org-langkah-mewujudkan-cinta
Love Puzzle | webdesign.org
Khadijah percaya sepenuhnya akan kebenaran pernyataan Waraqah. Ia tahu bahwa cinta yang tumbuh di hatinya adalah perasaan yang wajar bagi wanita mulia yang mendambakan seorang pendamping hidup yang dapat dipercaya. Bahkan ia juga meyakini bahwa rasa cinta itu merupakan anugerah Tuhan keapada dirinya, bahwa Tuhan menghendakinya untuk terlibat dalam rencana besar-Nya bagi manusia.

Akhirnya, meski sempat ragu, Khadijah kemudian memutuskan untuk menikah dengan Muhammad dan mengambil inisiatif untuk meminangnya. Tetapi, masih ada satu pertanyaan yang harus ia jawab: siapa yang dapat menjamin bahwa Muhammad akan menerima pinangannya?

Khadijah adalah wanita yang kaya, cantik, dan berstatus sosial tinggi. Ia masih memiliki pesona bagi banyak laki-laki. Di sisi lain, Muhammad bukanlah lelaki yang rakus dan gampang tergoda oleh hal-hal yang bersifat lahiriah. Tetapi, Khadijah tahu bahwa walau bagaimanapun, Muhammad tetaplah seorang pemuda. Adalah haknya untuk mencintai seorang gadis yang sebaya.

Dengan mempertimbangkan hal-hal tadi, Khadijah memilih untuk menggunakan sebuah siasat. Ia mengutus seorang wanita yang ia yakini kemampuan dan loyalitasnya untuk secara diam-diam melakukan pendekatan awal kepada Muhammad. Wanita yang dipercayainya untuk mengemban tugas itu adalah Nafisah binti Umayyah yang masih kerabat dekat Muhammad dan saudara perempuan bagi seorang lelaki yang kemudian menjadi salah satu sahabat Nabi yang terkemuka, Ya'la ibnu Umayyah.

Nafisah mendatangi Muhammad dan menasihatinya seperti seorang ibu menasihati anaknya. Ia mencoba untuk meyakinkan Muhammad tentang pentingnya menikah. Muhammad menjawab bahwa dirinya hanya seorang miskin yang tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepada wanita yang akan menajdi istrinya.

Nafisah membantah hal itu. Menurutnya, kemisikinan bukan halangan untuk menikah. Apalagi Muhammad telah lama dikagumi oleh penduduk Mekah karena akhlak dan kejujurannya. Karena itu, menurut Nafisah, semua orang tua tentu mengharapkan Muhammad datang dan meminang putri mereka.

Setelah Muhammad dapat diyakinkan tentang pentingnya menikah, barulah Nafisah menyatakan bahwa wanita yang paling patut menjadi istrinya adalah Khadijah. Alasannya sederhana. Khadijah adalah wanita yang cantik, kaya, bagus nasabnya, pandai menjaga kehormatan, dan luhur akhlaknya. Masyarakat pun menjukukinya "wanita yang suci".

Mengetahui pilihan Nafisah, Muhammad pun terkejut. Menurutnya, Nafisah berlebihan. Dari mana ia akan memperoleh harata untuk membayar mahar Khadijah? Nafisah menjawab bahwa kalau Muhammad setuju untuk menikah dengan Khadijah, urusan mahar tidak perlu dipikirkan.

Nafisah menceritakan proses "diplomasi" awal yang dilakukannya itu dalam sebuah riwayat. Ia berkata,
"Khadijah pernah mengutusku sebagai perantara kepada Muhammad setelah ia pulang dari Syam. Kukatakan kepadanya, 'Apa yang menghalangimu untuk menikah?' Muhammad menjawab, 'Aku orang miskin yang tidak punya harta.' Kukatakan, 'Jika aku tanggung semua keperluanmu untuk menikah dan kupilihkan seorang wanita yang cantik, kaya, mulia, dan cocok untukmu, maukah engkau menikah?' Muhammad kembali bertanya, 'Siapa wanita itu?' Aku menjawab, 'Khadijah.' Muhammad kembali bertanya, 'Bagaimana mungkin?' Kukatakan, 'Aku yang akan mengaturnya.'"
[Bersambung]

sumber asli: Pembuktian Tanda-Tanda dan Langkah Mewujudkan Cinta | Melebihi Kisah 1001 Malam | Muxlimo's Lair http://muxlimo.blogspot.com/2012/04/holly-book-decoders-and-first-step-to.html#ixzz1wv2QT7Gz
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Share Alike
0

Kepulangan Kafilah yang Dinanti | Melebihi Kisah 1001 Malam sumber asli: Kepulangan Kafilah yang Dinanti | Melebihi Kisah 1001 Malam | Muxlimo's Lair http://muxlimo.blogspot.com/2012/04/kepulangan-kafilah-yang-dinanti.html#ixzz1wv24FWEK Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Share Alike




kafilah-yang-dinanti__gambar-dari-twiinlovez.blogspot.com-
sekadar illustrasi


Secara pribadi, Khadijah juga berpikir tentang apa yang sebenarnya menghubungkan dirinya dengan Muhammad. Mengapa bayangan Muhammad selalu muncul siang-malam tanpa ia kehendaki?


Setelah menerima tugas dari Khadijah, Muhammad bergegas menuju pamannya, Abu Thalib, untuk menceritakan tawaran kerja yang baru diterimanya. Abu Thalib pun turut bergembira. Ia berkata, "Ini adalah rezeki yang Allah* berikan kepadamu."

* kita tidak tahu pasti penyebutan Allah di sini, sebab waktu itu Islam belum turun dan Abu Thalib sendiri adalah penyembah berhala hingga akhir hayatnya. Di satu sisi, seumur hidup Muhammad Rasulullah tidak pernah mengakui tuhan-tuhan berhala itu. Kemungkinan penyebutan ini disesuaikan penulis syirah untuk kita, umat Muhammad Saw. masa kini.


Sementara itu, Khadijah ternyata mengamati gambaran fisik Muhammad. Cara ia berjalan menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi. Posturnya seimbang, tidak terlalu pendek dan tidak terlalu tinggi, tidak terlalu gemuk dan tidak pula terlalu kurus.

Khadijah juga ingat bahwa selama berbincang-bincang dengannya, Muhammad selalu menundukkan wajahnya. Hanya sekali, seingatnya, Muhammad mengangkat wajahnya, yaitu ketika Khadijah menawarkan tugas menjalankan urusan perdagangan di Syam. Saat itu, Muhammad tersenyum, mengangkat wajahnya sedikit, lalu mengucapkan terima kasih, lalu kembali menunduk.

Muhammad memiliki kening yang lebar, dagu yang lepas, dan leher yang jenjang. Dadanya bidang. Matanya indah dan lebar dengan bola mata yang hitam pekat. Giginya putih cemerlang.

Agak mengherankan bahwa Khadijah memperhatikan semua itu. Ketampanan dan kegagahan Muhammad memang mampu memikat banyak orang. Tetapi, bukankah Khadijah memanggilnya untuk urusan bisnis? Tampaknya Khadijah tertarik kepada  pribadi pemuda ini. Alangkah lembutnya keindahan yang terpancar dari wajah Muhammad. Alahngkah indahnya senyum tipis yang menghias wajahnya. Khadijah merasa bahwa apa yang ramai dibicarakan penduduk Mekah tentang Muhammad bukan merupakan isapan jempol belaka.

Hari keberangkatan pun tiba. Penduduk Mekah, termasuk para paman Muhammad, beramai-ramai mengantar kafilah ke perbatasan kota. Kafilah pun bertolak menuju Syam.

Dalam ekspedisi dagang ke Syam ini, Muhammad dibantu oleh seorang laki-laki bernama Maysarah. Khadijah berpesan agar Maysarah tidak membantah perintah Muhammad ataupun menentang pendapatnya.

Urusan perdagangan di Syam (sekarang Suriah) ternyata berjalan lancar. Barang-barang habis terjual. Laba yang luar biasa besar pun didapat. Sebelum pulang, kafilah ini membeli barang-barang lain untuk dijual kembali di Mekah.

Setelah semua urusan selesai, kafilah ini pun beranjak pulang. Sesampainya di sebuah lembah—sekarang terkenal dengan nama Wâdî Fâthimah—di luar Mekah. Maysarah berkata kepada Muhammad, "Pergilah kepada Khadijah. Laporkan semua yang engkau alami dan keuntungan yang engkau peroleh dalam ekspedisi ini."

Muhammad lalu maju bersama para pemuda lain yang baru saja datang dari pejalanan jauh. Mereka memasuki kota diikuti kafilah yang berjalan perlahan di belakang mereka. Para lelaki menyambut kedatangan mereka di jalan-jalan. Para wanita memandangi mereka dari atas rumah.


Jalur-ekspedisi-dagang-perdana-Muhammad-sebelum-menjadi-nabi
Jalur ekspedisi dagang perdana Muhammad Saw. sebelum kenabian.
[klik untuk memperbesar gambar]


Saat itu siang hari. Khadijah bersama beberapa wanita lain berada di sebuah ruangan di bagian atas rumahnya. Ia dapat melihat Muhammad yang sedang menunggang unta kecil berwarna merah memasuki kota. Ada dua malaikat menaunginya. Para wanita itu terkejut. Betapa gagah Muhammad. Betapa agung wibawa yang dipancarkannya. Betapa dari jauh ia terlihat begitu indah dan mengesankan.

Sebagaimana tradisi yang biasa dilakukan para pembesar Quraisy selepas pulang dari perjalanan dagang, Muhammad pun langsung menuju Ka'bah untuk melakukan thawaf. Setelah itu barulah ia menghadap Khadijah.

Kepada Khadijah, Muhammad melaporkan semua hal yang dialaminya selama perjalanan, termasuk keuntungan besar yang diperolehnya dan barang-barang dagangan yang dibelinya di Syam. Khadijah menerima laporan itu dengan gembira. Apalagi setelah diketahui bahwa barang-barang yang dibawa dari Syam berhasil dijual kembali di Mekah dengan keuntungan yang berlipat ganda.

Pada kesempatan lain, Maysarah juga menghadap Khadijah dan bercerita tentang hal-hal aneh yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Khadijah mulai berpikir dan menimbang-timbang semua cerita yang didengarnya itu. Ia tahu bahwa semua penduduk Mekah merasa kagum kepada Muhammad. Mereka percaya dengan kejujuran, integritas, dan kebersihan moralnya. Khadijah sendiri mengakui bahwa Muhammad adalah pemuda yang nyaris sempurna.

Khadijah mulai bertanya-tanya. Perasaan apa yang ada di dalam hatinya. Mengapa ia merasa kagum ketika melihat Muhammad memasuki kota Mekah dengan untanya? Tidak salahkah penglihatannya ketika ia menyaksikan sendiri dua malaikat menaungi Muhammad? Rasa gembira ketika mendengar Muhammad memperoleh keuntungan besar di Syam; benarkah rasa itu muncul hanya karena kabar keuntungan finansial yang didapatnya? Bagaimana ia harus menyikapi cerita-cerita aneh yang dikabarkan oleh Maysarah?

Sebenarnya, Khadijah telah mencoba untuk tidak memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu. Tetapi semakin keras ia berusaha untuk melupakannya, semakin sering pikiran-pikiran itu muncul di kepalanya. Dan, anehnya, Khadijah merasa bahagia dengan semua itu. Ia bertanya-tanya, apakah pikiran itu lahir dari rasa kagum yang sama seperti apa yang dirasakan oleh orang-orang Quraisy?

Khadijah tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu. Ia, seorang wanita yang dikenal dengan kecerdikan dan ketajaman pikiran, ternyata tidak dapat menangani persoalan yang terkesan sederhana ini.  Di ujung rasa bimbangnya, Khadijah pergi menemui sepupunya, Waraqah ibnu Naufal.

Waraqah memeluk Nasrani sejak muda. Ia adalah seorang yang tekun menyembah Tuhan, menjauhi berhala, dan mempelajari kitab-kitab suci agama terdahulu. Mendengar cerita Khadijah, ada rasa bahagia yang aneh dirasakan oleh Waraqah.

Perbincangan dengan Waraqah menimbulkan kesan mendalam di hati Khadijah. Ia kembali memikirkan Muhammad, pemuda yang mengagumkan itu.

Secara pribadi, Khadijah juga berpikir tentang apa yang sebenarnya menghubungkan dirinya dengan Muhammad. Mengapa bayangan Muhammad selalu muncul siang-malam tanpa ia kehendaki?

Telah banyak pinangan lelaki yang ditolak oleh Khadijah karena ia berpikir bahwa mereka hanya menghendaki harta dan status sosialnya. Tetapi, Muhammad berbeda dengan mereka. Rasa hormat dan cinta kepadanya tumbuh perlahan-lahan hingga akhirnya mencengkeram hati dan perasaan. Apakah ini juga bagian dari takdir Tuhan? Khadijah bertanya, inikah balasan untuk dirinya dari Tuhan atas perbuatan baik, sifat dermawan, serta keteguhannya menjaga diri dan kehormatan?

Ia tahu bahwa cinta yang tumbuh di hatinya adalah perasaan yang wajar bagi wanita mulia yang mendambakan pendamping hidup yang dapat dipercaya. Bahkan ia juga meyakini bahwa rasa cinta itu merupakan anugerah Tuhan kepada dirinya, bahwa Tuhan menghendakinya untuk terlibat dalam rencana besar-Nya bagi manusia.

Akan tetapi, Khadijah juga sempat ragu. Pantaskah ia menikah dengan Muhammad? Selama ini, ia yakin bahwa ia harus menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Karena hal itulah ia menolak semua pinangan yang datang. Ia  lebih memilih untuk hidup bersama anak-anaknya dan memusatkan perhatiannya untuk dalam bidang perdagangan. Apa kata para pemuka Qurais jika mendengar Khadijah meminang seorang pemuda untuk dirinya sendiri?

Dalam tradisi Arab, seorang wanita hanya boleh menunggu lamaran dari laki-laki. Tetapi Khadijah bukan lagi seorang perawan muda yang tidak berpengalaman. Sebaliknya, Khadijah justru telah mempekerjakan banyak laki-laki untuk menangani urusan-urusan bisnisnya. Apa salahnya ia memilih sendiri laki-laki yang dapat mendampingi dan membahagiakannya?

Berbekal pengalamannya dalam dunia perdagangan, Khadijah juga memahami bahwa keteguhan dan inisiatif merupakan dua hal yang sangat menentukan kesuksesan. Khadijah sendiri adalah wanita yang sangat teguh memegang pendiriannya apabila ia yakin bahwa pendiriannya itu baik dan benar. Keteguhan dan inisiatif itu yang menjadikannya memilih dan mengutus Muhammad ke Syam. Apa salahnya jika ia memilih Muhammad sekali lagi untuk menjadi pendamping hidupnya? [bersambung]

[Sebuah sajian ulang dari Khadijah Ummul Mu'minin; Nazharât fî Isyrâ Fajril Islâm oleh Abdul Mun'im Muhammad Umar yang diterbitkan di Indonesia dengan judul Khadijah: The True Love Story of Muhammad, Pena Pundi Aksara, cetakan IX, 2010]


Nah, Sobat sekalian, penggambaran detail solilokui/monolog batin Khadijah di atas menunjukkan bahwa tokoh "ibu-akidah" kita ini adalah sosok seorang wanita mandiri, baik secara finansial maupun emosional. Tidak ada bedanya dengan "juragan-juragan putri" masa kini 'kan?! :D


Lihatlah, betapa Islam dimulai dengan penghargaan yang tinggi akan kebebasan berpikir dan menentukan nasib sendiri. Lihatlah betapa sejak turun pun Islam menghormati kaum perempuan. Jika tidak, tentu Allah tidak akan menakdirkan Muhammad bertemu Khadijah sedemikian rupa sehingga menjadi tonggak sejarah turunnya karunia bagi seluruh alam.

Jadi, tak perlu lagi manusia masa kini yang lebih "modern" meng-ada-ada-kan yang sudah ada sejak awal: tidak perlu mengusung feminisme palsu. Mengapa? Karena mengada-adakan yang sudah ditetapkan Allah akan ada-nya adalah perbuatan menyimpang yang justru mengaburkan makna atas hal yang sudah jelas. Bahkan, ini bisa dimanfaatkan oleh jiwa-jiwa busuk yang menghendaki kehancuran fitrah manusia. Berpikirlah. Waspadalah. Yang sudah ada jangan diada-adakan lagi. Nanti terlalu kelihatan meng-ada-adanya, Pren. Hehehe.

Meng-ada-ada-kan hal yang sudah Allah tetapkan ada akan merusak dan menyimpangkan makna hakikinya.

Meniada-tiadakan hal yang sudah Allah tetapkan tiadanya, akan menjadikannya semakin ada dalam rupa kepalsuan yang besar.

Kembali ke kisah, kita semua pastinya sudah bisa menerka "kejadian-kejadian aneh" apa yang disaksikan oleh Maysarah selama ekspedisi dagang ke Syam itu. Kita juga bisa menerka apa yang membuat Waraqah ibnu Naufal merasakan kebahagiaan yang misterius ketika itu. Akan tetapi, dari cerita detailnya nanti, kita akan semakin kenal dan semakin takjub atas karunia Allah atas junjungan kita ini. Tentunya, ini menambah kebanggaan kita sebagai "anak-anak akidah" beliau.

Akan tetapi, tentu pertanyaan paling menggelitik adalah

Bagaimana cara seorang entrepeneur wanita sekelas Khadijah mewujudkan cintanya pada pemuda Muhammad?


Tunggu kelanjutan kisahnya setelah ini, insyaAllah. Sambil menunggu, tidak ada salahnya Sobat mengklik tautan di bawah ini agar otomatis tahu ketika lanjutannya sudah tersedia di sini. (Bisa berhenti berlangganan jika di kemudian hari Sobat berubah pikiran, ya)

sumber asli:
Kepulangan Kafilah yang Dinanti | Melebihi Kisah 1001 Malam | Muxlimo's Lair http://muxlimo.blogspot.com/2012/04/kepulangan-kafilah-yang-dinanti.html#ixzz1wv28kqGg
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Share Alike
0

Pinangan Bersambut, Bahtera Mengangkat Sauh



Upaya pendekatan yang dilakukan Nafisah ini sebenarnya bermakna penting. Tidak saja penting bagi Khadijah, tetapi juga bagi sejarah manusia secara umum. Jika Khadijah terbukti berperan penting bagi kesuksesan Rasulullah menunaikan misi risalahnya, maka siapa pun yang membantu pernikahan mereka harus dipandang sebagai bagian penting dari proses penyebaran Islam ke seluruh dunia.

Dengan meminang Muhammad, Khadijah sebenarnya sedang menciptakan sebuah tradisi yang memihak dan menghormati wanita. Jika wanita berhak untuk mengatur urusan-urusannya sendiri, mengapa ia tidak boleh memilih seorang lelaki untuk menjadi pendamping hidup dan ayah bagi anak-anaknya? Apalagi Khadijah tidak memilih calon suami yang kaya. Pilihannya atas Muhammad lebih didasarkan atas budi pekerti yang mulia dan perilaku yang luhur. Muhammad juga terbukti mampu menjaga dan mengembangkan aset-aset bisnisnya.

Akan tetapi, bukan hal itu saja yang dipelajari dari kisah ini. Setelah Nafisah memberi tahu hasil pendekatannya, Khadijah lalu mengundang Muhammad ke kediamannya. Di sana, dengan berani, Khadijah mengungkapkan secara langsung pinangannya. Hal ini menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi sekaligus keberanian menuntut hak dan menyampaikan aspirasi tanpa perantara. Khadijah memperlihatkan bahwa wanita mampu menangani urusan-urusannya sendiri, berhak melakukan apa pun demi mencapai kebahagiaan, serta boleh menerima siapa pun yang pantas menjadi tamunya.

Nafisah memang membantunya melakukan pendekatan awal untuk menjajakikemungkinan Muhammad menerima pinangannya. Tetapi setelah itu, Khadijah menjalani sendiri proses yang harus dilalukannya. Perhatikan ucapan Khadijah kepada Muhammad berikut ini.

"Wahai anak pamanku, aku berhasrat menikah denganmu atas dasar kekerabatan, kedudukanmu yang mulia, akhlakmu yang baik, integritas moralmu, dan kejujuran perkataanmu."

Muhammad menerimanya. Hari pernikahan yang ditunggu-tunggu itu pun datang. Muhammad didampingi oleh bani Hasyim yang dipimpin oleh Abu Thalib dan Hamzah. Hadi juga bersamanya, bani Mudhar, sedangkan Khadijah didampingi oleh bani Asad yang dipimpin oleh Amr ibnu Asad.

Pidato pernikahan disampaikan oleh Abu Thalib. Ia menyampaikan, “Segala puji bagi Allah yang telah melahirkan kita sebagai anak keturunan Ibrahim dan Ismail. Segala puji bagi-Nya yang telah menjadikan kita penjaga rumah-Nya. Dia menjadikan kediaman kita aman dan diziarahi banyak orang. Dia pula yang menjadikan kita berkuasa atas orang-orang. Keponakanku ini, Muhammad ibnu Abdillah tidak bisa dibandingkan dengan pemuda mana pun; ia pasti mengungguli mereka. Ia memang tidak kaya. Tetapi, bukankah kekayaan akan berubah dan menghilang? Dan kalian tahu di dalam keluarga seperti apa Muhammad dilahirkan. Hari ini, Muhammad menikahi Khadijah binti Khuwailid denga mahar yang seluruhnya menjadi tanggunganku. Ini akan menjadi berita besar dan kehormatan yang agung.”

Setelah Abu Thalib selesai menyampaikan pidatonya, berdirilah Amr ibnu Asad, paman Khadijah dan pemimpin kaumnya. Ia menyampaikan pujian bagi Muhammad dan mengumumkan pernikahannya dengan Khadijah. Dengan itu, resmilah pernikahan keduanya.

Pernikahan itu sendiri dilaksanakan setelah 2 bulan 15 hari setelah Muhammad datang dari Syam. Mahar yang diberikan kepada Khadijah adalah 20 ekor unta. Usia Muhammad saat itu adalah 25 tahun, sedangkan Khadijah berusia 40 tahun.

Diriwayatkan dari Hakim ibnu Hazm ibnu Khuwailid, keponakan Khadijah, “Rasulullah saw. Menikah pada usia 25 tahun, sedangkan Khadijah 2 tahun lebih tua daripada aku. Ia dilahirkan 15 tahun sebelum Tahun Gajah dan aku dilahirkan 13 tahun sebelum Tahun Gajah.”
Pesta pernikahan pun tiba. Dua ekor unta besar disembelih untuk keperluan pesta. Dagingnya dibagi-bagikan kepada keluarga, kawan-kawan, dan para fakir miskin. Suasana semakin meriah dengan bunyi tetabuhan dan nyanyian. Semua orang bergembira.


pondokhabib.wordpress.com-poster-doa-keluarga-sakinah


Hidup baru membentang di hadapan kedua pengantin. Kebahagiaan memenuhi perasaan Khadijah. Pernikahan ini lebih indah daripada apa yang ia bayangkan. Khadijah sadar bahwa apa yang ia dengar tentang kebaikan Muhammad ternyata tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang ia saksikan sendiri.

Muhammad selalu menampakkan sifat sabar dan tabah. Ia juga jujur. Apa yang ditampakkannya dalam perbuatan lahiriah tidak pernah bertentangan dengan apa yang ada di dalam hatinya. Ia dermawan. Tidak pernah menolak membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Ia bersedekah tanpa pernah takut hartanya akan habis. Dan hal itu terbukti. Harta di tangannya selalu bertambah sebanyak apa yang ia keluarkan.

Muhammad juga sangat rendah hati. Ia tidak malu melayani dirinya sendiri. Tidak pernah ia menunggu uluran tangan pembantu dalam menangani urusan rumah tangganya. Jika Muhammad memiliki pembantu, ia yang justru menolong mereka dalam tugas-tugas yang mereka lakukan. Tidak ada pembantu yang dibebani dengan kerja berlebihan di luar batas kemampuan.


annashradio.com-keluarga-sakinah

Semua orang dalam rumah tangga sepasang suami istri ini merasakan kebaikan hati Muhammad. Ia selalu mengutamakan mereka atas dirinya sendiri. Mereka selalu berbagi kebaikan dan kesenangan bersamanya.

Dalam urusan bisnis dan perdagangan, Muhammad juga berperan sangat penting. Sebagian besar waktunya dicurahkan untuk menjalankan usaha dagang yang dirintis sekian lama oleh istrinya. Tidak pernah Muhammad terlihat bermalas-malasan. Ia selalu bersemangat dan bersungguh-sungguh.

Muhammad tidak pernah memaksakan kehendaknya. Ia selalu bermusyawarah dengan Khadijah dalam urusan-urusan yang mereka tangani bersama. Ia juga merupakan pendengar yang baik dan penuh perhatian. Tidak pernah ia mengecewakan atau menolak permintaan istrinya.

Khadijah tentu sangat berbahagia dengan pernikahannya. Ia merasa tidak perlu lagi mengurus usaha dagangnya. Semua diserahkannya kepada Muhammad, suaminya. Perhatian Khadijah sepenuhnya dipusatkan pada bagaimana melayani dan mencintai suaminya serta menangani urusan-urusan rumah tangga.

Bagaimana dengan ketiga anak Khadijah dari perkawinannya terdahulu? Mereka ternyata tetap tinggal bersama Khadijah dan Muhammad, dua orang yang mencintai mereka. Ketiganya kemudian memeluk Islam dan menjadi asisten Rasulullah yang paling setia. Tidak banyak karya sejarah yang menulis ketiga anak Khadijah itu. Tampaknya, kehidupan Rasulullah menyita perhatian yang sangat besar dari kalangan sejarawan dan menjadikan kehidupan orang-orang lain sedikit terabaikan. Kami akan mengkaji kehidupan mereka bertiga dalam pembahasan tersendiri.

Waktu dan perhatian Muhammad terbagi antara urusan-urusannya sendiri, urusan-urusan keluarga, urusan-urusan perdagangan, dan urusan-urusan para kerabatnya. Ia mampu bersikap adil dalam semua itu. Tidak ada kepentingan pihak mana pun yang harus dikorbankan demi kepentingan pihak lain.

Sebagai salah satu bentuk rasa syukur atas semua nikmat yang diterimanya dari Allah, Muhammad membebaskan seorang budak wanita berkebangsaan Habasyah (sekarang Ethiopia) yang diwarisinya dari ayahnya dulu. Budak itu bernama Barakah. Ia yang pernah mengasuh Muhammad selepas kematian ibunya, Aminah binti Wahb. Muhammad begitu mencintai Barakah. Muhammad selalu bersikap ramah kepadanya dan memanggilnya dengan panggilan, “Wahai Ibunda!” di depan orang-orang. Muhammad selalu menyebutnya sebagai bagian dari keluarganya.

Setelah dibebaskan, Barakah menikah dengan Ubaid ibnu Zaid, seorang lelaki dari bani Harits. Dari pernikahan ini, lahirlah Ayman ibnu Ubaid, seorang anak yang kemudian sangat disukai oleh Muhammad. Sejak kelahiran anak itu, Barakah terkenal dengan nama Ummu Ayman ‘ibunya Ayman’.

Setelah beranjak dewasa, Ayman menjadi salah seorang sahabat terdekat Muhammad Rasulullah. Ia merupakan bagian dari orang-orang pertama yang masuk Islam. Kisah kepahlawanan pemuda ini diabadikan Abbas dalam sebuah syair.



                          Kita bertujuh telah menolong Rasulullah,
                          ketika semua orang lari ketakutan
                          di sana, orang kedelapan menghadapi musuh 
     
                          sendirian
      
                          demi Islam, tak pernah takut ia terima serangan.



romeomodels.com-Muslim-Warrior-50
Lima dari tujuh orang yang tidak ikut melarikan diri pada Perang Hunain adalah keluarga Nabi, yaitu Abbas, Ali ibnu Abi Thalib, Fadhl ibnu Abbas, Abu Sufyan ibnu Harits ibnu Abdil Muthalib, dan Usamah ibnu Zaid. Dua orang lainnya adalah sahabat-sahabat terdekat Rasulullah, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar ibnu Khaththab. Lalu siapakah orang kedelapan yang bertempur dengan gagah berani dalam syair tersebut? Dialah Ayman ibnu Ubaid.
[InsyaAllah bersambung pada subjudul:
Kegundahan Khadijah dan Abul-Qasim]

sumber asli: Pinangan Bersambut, Bahtera Mengangkat Sauh | Muxlimo's Lair http://muxlimo.blogspot.com/2012/04/pinangan-bersambut-bahtera-mengangkat.html#ixzz1wv1CytKh
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Share Alike
0

Malaikat Rahim a.s. : Tulisan Tangannya di Rahim Setiap Ibu sumber asli: Malaikat Rahim a.s. : Tulisan Tangannya di Rahim Setiap Ibu



Salaam Sobat, mari kita lanjutkan kategori berseri ini. Kali ini saya sajikan mengenai Malaikat Rahim a.s. yang bertugas mengurus benih anak Adam hingga kelahirannya. Anda (terutama yang perempuan dan pernah mengandung) mungkin baru menyadari,  bahwa salah seorang malaikat Allah telah pernah mencorat-coret rahim Anda. Tentu bukan membubuhkan coretan iseng: "was here" dong! wkakak! Penasaran? Cekidot aja langsung.. eheheh..


Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya setetes mani itu berada di dalam rahim selama empat puluh hari dalam keadaannya, tidak berubah. Bila empat puluh hari telah berlalu, dia menjadi segumpal darah, kemudian segumpal daging seperti itu juga, kemudian tulang seperti itu juga. Bila Allah ﷻ hendak menyempurnakan penciptaannya, Dia mengutus seorang malaikat kepadanya yang berkata, "Wahai Tuhan, laki-laki atau perempuan? Sengsara atau bahagia? Pendek atau tinggi? Kurang atau lebih? Makanan (rezeki) dan ajalnya, sehat atau sakit?" Lalu dia mencatat semuanya itu." (Diriwayatkan oleh Ahmad dari Ibn Mas'ud)

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Bila Allah  hendak menciptakan seorang jiwa, Malaikat Rahim bertanya,"Wahai Tuhan, laki-laki atau perempuan? Lalu Allah ﷻ menentukan. Dia bertanya lagi, "Wahai Tuhan, sengsara atau bahagia?" Lalu Allah ﷻ menentukan perkaranya. Kemudian dia mencatat di antara kedua matanya apa yang akan terjadi terhadapnya sampai bencana yang akan dialaminya." (Diriwayatkan oleh al-Bazzar, Abu Ya'la, dan ad-Daru Quthni dalam al-Afraad dari Ibn 'Umar)    

"Aku membaca di dalam Taurat-atau dia mengatakan di dalan lembaran (suhuf) Ibrahim a.s., lalu aku menemukan di dalamnya, Allah ﷻ berfirman,
"Wahai anak Adam, mengapa kamu tidak berlaku adil kepada-Ku. Telah Aku ciptakan kamu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali; telah Aku jadikan kamu manusia yang sempurna; telah Aku ciptakan kamu dari saripati tanah lalu Aku jadikan sari pati air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim), lalu Aku ciptakan air mani itu segumpal darah, lalu Aku ciptakan segumpal darah itu segumpal daging, lalu Aku ciptakan segumpal daging itu tulang-belulang, lalu Aku bungkus tulang-belulang itu dengan daging, lalu Aku jadikan kamu makhluk yang lain."

"Wahai anak Adam, apakah selain Aku ada yang mampu melakukan itu?" Lalu Aku ringankan beratmu bagi ibumu sehingga dia tidak merasa bosan dan sakit karenamu. Lalu Aku perintahkan kepada usus agar meluas dan kepada anggota badan agar berpencar. Usus itu pun meluas setelah sebelumnya sempit dan anggota badan pun berpencar setelah sebelumnya berbelit-belit. Lalu Aku perintahkan kepada malaikat yang mengurus rahim agar mengeluarkanmu dari perut ibumu. Malaikat itu mengambilmu di atas bulu sayap-sayapnya, sedangkan Aku mengawasimu."

"Bila kamu diciptakan lemah yang tidak memiliki gigi yang dapat memotong dan geraham yang dapat mengunyah, maka Aku mengambilkan bagimu di dalam dada ibumu suatu urat yang mengucurkan susu; yang dingin di musim panas dan yang panas di musim dingin, dan Aku mengambilkannya untukmu di antara kulit dan darah serta urat."

"Lalu aku memasukkan rasa sayang bagimu di dalam hati ayahmu dan menaruh belas kasih bagimu di dalam hati ibumu. Maka keduanya bekerja keras dan bersungguh-sungguh dalam mendidikmu dan memberimu makan serta tidak tidur sebelum menidurkanmu."

"Wahai anak Adam, mengapa Aku melakukan ini untukmu? Apakah karena kamu memang berhak mendapatkan yang demikian itu dari-Ku, atau karena suatu kebutuhan yang Aku mengharapkan pertolonganmu untuk memenuhinya? Wahai anak Adam, ketika gigimu dapat memotong dan gerahammu dapat mengunyah, Aku beri kamu makanan buah-buahan musim panas pada masanya dan buah-buahan musim dingin pada masanya pula. Dan ketika kamu telah mengetahui Aku adalah Tuhanmu, kamu malah mendurhakai-Ku

"Maka berdoalah kepada-Ku, karena sesungguhnya Aku Mahadekat lagi Maha Mengabulkan (doa). Dan mintalah ampunan kepada-Ku karena sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Diriwayatkan oleh Abu Na'im dalam al-Hilyah dari Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi)

Jika informasi terakhir di atas berasal dari suhuf (lembaran) kitab Taurat. Berikut ini informasi dari kitab terakhir, al-Quran al-Karim: 

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang [berbentuk] lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Sura 40 - Ghafir (MAKKA) : Verse 67
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian [kamu dibiarkan hidup] supaya kamu sampai kepada masa [dewasa], kemudian [dibiarkan kamu hidup lagi] sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. [Kami perbuat demikian] supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami [nya].

Menurut saya:
Bagian ini tidak dikaruniakan Allah pada ayah-ayah biadab dan ibu-ibu laknat yang tega membuang bayinya.  
Bagian ini adalah sindiran keras bagi orang-orang yang menuhankan "kehendak bebas" (freewill) mereka. 
Mereka ini bisa saja adalah orang-orang ateis: mereka pikir Tuhannya orang-orang beragama itu bukan tuhan karena butuh disembah dan murka kalau mau-Nya tidak dituruti. Duh! -_-" Atau bisa juga mereka adalah orang-orang beragama yang terlalu mengandalkan akal dalam beragama akibat kebanyakan gaul sama scientist sok objektif. Ada lo, orang berpendidikan tinggi, pengetahuan Islamnya mendalam pula, tetapi dia memutuskan tidak salat dengan alasan itulah pengetahuan yang didapatnya secara "ilmiah" dan sesuai dengan pilihan pribadinya alias freewill itu tadi. InsyaAllah, kapan-kapan kita bahas soal freewill ini ya. Salaam! ^_^ 



border-1

MisteriMakhlukBersayap




Informasi yang terkumpul dalam kategori ini merupakan saji ulang dengan penambahan seperlunya dari buku yang berjudul Al-Haba'ik fi Akhbar al-Mala'ik yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Misteri Makhluk Bersayap: Menjelajah Alam Malaikat oleh Imam al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi, diterbitkan pada Agustus 2008 oleh penerbit Pustaka Hidayah, Bandung. Adapun sumber informasi detail mengenai para malaikat a.s. ini beliau kumpulkan dari segenap hadis yang bertopik para kekasih Allah ini.
0

Dalil Allah Tak Bertempat




Salam alaikum, Sobat Sarang...
Postingan berikut ini merupakan publikasi ulang dari tulisan sahabat misterius saya di muxlim.com, Bang Manifold dari negeri jiran, Malaysia. Dikatakan sahabat misterius karena yang saya ketahui tentang beliau ini hanya nama alias dan kebangsaannya saja. Meskipun saya tidak menempatkan diri dalam golongan Islam mana pun, saya setuju dengan pandangan beliau yang bermanhaj Ahlussunah wal Jamaah dalam topik tauhid yang beliau beri tajuk Di Mana Allah?

Ini adalah topik yang penting sebab berkaitan dengan akidah berketuhanan Islam yang membedakannya dengan akidah selainnya. Baiklah Sobat Sarang, ini dia:   :)  

Shadrul Islam, al-'Aalim, al-Ushuli al-Mutafannin, al-Imam Abu Manshur Abdul Qaahir bin Thoohir bin Muhammad at-Tamimi al-Isfarayini al-Baghdadi ada seorang ulama besar bermazhab Syafi`i dan antara pemuka al-'Asyairah yang masyhur. Beliau hidup sebelum Ibnu Taimiyyah al-Harrani di mana beliau wafat dalam tahun 429H. Beliau sezaman dengan Imam Muhammad al-Juwayni (ayahanda Imam al-Haramain Abdul Malik bin Muhammad al-Juwayni, guru Hujjatul Islam al-Ghazali) dan termasuk generasi ketiga para Imam al-'Asyairah. Antara ulama yang menjadi gurunya ialah Imam Abu Ishaq al-Isfarayini yang masyhur itu. Imam Abu Manshur 'Abdul Qaahir al-Baghdadi menuntut ilmu sehingga menguasai 17 cabang ilmu dengan baik, sehingga beliau dipuji oleh Syaikhul Islam Abu Utsman as-Shabuni sebagai " salah seorang Imam Ushuluddin yang paling utama dan berotoriti mengenai Islam dengan ijma` ulama-ulama kenamaan dan berwibawa. Antara kemegahan beliau ialah Imam al-Baihaqi, Imam Abul Qasim al-Qusyairi dan Imam Nashir al-Mirwazi adalah antara murid-murid beliau. Imam besar ini juga meninggalkan banyak karangan yang bernilai, antaranya:

1. Bulughul Mada min ushulil huda;
2. Fadaih al-Karramiyyah;
3. al-Farqu bainal firaq;
4. al-Fakhir fil awail wal awakhir;
5. al-'Imad fi mawaritsil 'ibaad;
6. Ibtal al-qawl bit tawallud;
7. Manaqib al-Imam asy-Syafi`i;
8. Masyariq an-Nur wa Madarik as-Surur fil kalam;
9. al-Milal wan Nihal;
10. Nafy Khalq al-Quran;
11. Syarh Miftah Ibn al-Qass;
12. al-Kalam wal Wa`id;
13. Nasikh al-Quran wa mansukhhuh'
14. Mi'yar an-Nazar;
15. Naqd Abi Abdillah al-Jurjani fi tarjih Madzhab Abi Hanifah;
16. al-Qadhaya fid dawr wal washoya;
17. Syarh hadits Iftiraq Ummati;
18. ash-Shifat;
19. Tafdhil al-faqir ash-shobir 'ala al-ghani asy-syakir;
20. Tafsir al-Quran.

Berhubung persoalan "di mana Allah?", Imam Abdul Qaahir bin Thoohir bin Muhammad al-Baghdadi menulis dalam karangannya yang masyhur "al-Farqu baina al-Firaq" pada fashal ke 3 dalam menerangkan segala usul yang telah disepakati (telah diijma`kan) oleh Ahlus Sunnah wal Jama`ah pada halaman 256 menulis antaranya:-

Al-Farqu-baina-al-Firaq-pasal-3-hlm-256


Dan Ahlus Sunnah wal Jama`ah telah ijma` bahawasanya Allah s.w.t. tidak bertempat dan tidak lalu atas-Nya masa, bersalahan dengan pegangan golongan al-Hisyaamiyyah dan al-Karaamiyyah yang mendakwa Allah bertempat di arasyNya. Dan telah berkata Amirul Mu'minin 'Ali r.a.: "Sesungguhnya Allah ta`ala telah menciptakan arasy untuk menzahirkan qudratNya dan bukan untuk dijadikan tempat bagi zatNya". Baginda juga berkata: "Dan adalah Allah ta`ala wujud tanpa tempat dan Dia sekarang atas sebagaimana sediakalanya".

Kesimpulannya, mudah sahaja: Kewujudan Allah berbeza dengan kewujudan makhluknya. Antara perbezaannya ialah wujud Allah tanpa bertempat dan wujud makhluk mengambil tempat dalam bahasa tok-tok guru dulu "mengambil bagi lapang". 
Bagaimana orang yang berakal boleh menempatkan tempat bagi Allah, sedangkan tempat itu juga satu makhluk yang baharu.
Jika dikatakan Allah di atas arasy, maka yang dimaksudkan dengan atas itu adalah kadar kedudukan atau maqamnya yang Maha Tinggi dan bukannya difahami secara zahir sebagai tempat kedudukannya. Insya-Allah, di lain posting kita akan lihat tafsiran para ulama kita berhubung dengan ayat-ayat dan hadits-hadits sifat ini.

Kita beriman dengan firman Allah bahawa Dia beristiwa` atas arasy sebagaimana difirmankanNya, tetapi tidaklah dikita ketahui makna hakikat firmanNya itu dan kita serahkan maksudnya kepada Allah semata-mata tanpa pergi lebih jauh daripada itu. Inilah pegangan kebanyakan ulama Salaf. Tetapi jika ada ulama yang mentakwilkan istiwa` itu sebagai menguasai, maka tidaklah boleh dikeji sebagai silap, kerana hakikatnya memanglah Allah yang menguasai arasy dan sekalian makhluk ini. Hanya yang sesat ialah orang yang mengatakan bahawa Dzat Allah itu memang berada atau bertempat di arasy, maka itulah pendapat yang salah dan sesat. Maha Suci Allah daripada mengambil bagi lapang.

Penulis Asal : Abu Muhammad (Bahrus Shofa)


Bagian kedua

Huraian Lanjut "Dimana Allah" - Pegangan Ahlus Sunnah wal Jamaah


Assalamu'alaikum. Segala Puji bg. Allah Yg. Maha Esa, Selawat & Salam Buat Nabi Junjungan Muhammad S.A.W. Merujuk posting terdahulu mengenai "Dimana Allah", maka di sini kubawakan akan hujahku agar jelas 'itiqadku buat teman2 semua. Renungkanlah dgn hati yg terbuka kerana kita semua hanyalah pada jalan meng-Esa-kan Allah.

Tiadalah niatku untuk berdebat atau menjadi juara akan pada perkara ini. hanyalah menyatakan akan pegangan sebenar ahlus sunnah waljama'ah. Dan berpegang akan Perintah Kekasih kita Nabi Muhammad S.A.W. "Ballighu minni lau al- ayat" . Mudah2an mendapat Rahmat Allah akan kita sekeliannya. Disini ku nukilkan huraian lanjut mengenai perkara tersebut yang telah dihuraikan oleh saudaraku Abu Muhammad. Wassalam.


Antara dalil yang biasa dikemukakan oleh puak hasywiyah bagi menetapkan Allah bertempat di langit ialah Hadits Jariah. Maka dijajalah hadits ini ke sana ke mari untuk menegakkan pegangan mereka bahawa Allah itu mengambil tempat di langit, subhanAllah. Maka ramai, kalangan awam terpengaruh dengan kalam fahisy mereka ini, serta beri'tiqad bahawa Allah itu di langit, subhanAllah. Tidaklah mereka mengetahui bahasan dan penjelasan dan keterangan daripada para ulama kita berhubung dan mengenai hadits tersebut, sama ada kerana memang mereka tidak mengetahuinya atau sengaja buat-buat tak tahu. Ulama-ulama kita sebenarnya telah membahaskan dengan panjang lebar akan hadits ini dari segala aspeknya, baik sudut riwayat dan thuruqnya, sehinggalah kepada perbezaan lafaznya antara satu riwayat dengan riwayat yang lain kerana Hadits Jariah ini mempunyai riwayat yang berbilang-bilang.


Untuk posting ini aku nukil yang diriwayatkan Imam Muslim dalam "al-Jami` ash-Shohih" jilid 1, juzuk 2, halaman 70 - 71, kitab al-masaajid wa mawaadhi` ash-sholaah, bab tahriim al-kalaam fi ash-sholaah wa nasakha maa kaana min ibaahatih. Ianya adalah sebahagian daripada hadits yang panjang yang menceritakan kisah Sayyidina Mu`aawiyah bin al-Hakam as-Sulamiy r.a. mentasymit seseorang yang bersin ketika bersholat di belakang Junjungan Nabi s.a.w., lalu selesai sholat dia ditegur oleh Junjungan Nabi s.a.w. dengan menyatakan bahawa dalam sholat tidak boleh berbicara selain daripada tasbih, takbir dan pembacaan al-Quran. Setelah itu Sayyidina Mu`aawiyah telah bertanya beberapa persoalan kepada Junjungan Nabi s.a.w. dan di antaranya ialah mengenai permerdekaan seorang hambanya (jariahnya) yang telah ditempelengnya. Untuk ringkas aku tidak nukilkan keseluruhan hadits tersebut, cuma aku letakkan di sini bahagian akhirnya berhubung dengan kisah jariah tersebut.

Pada halaman 71, jilid 1, juzuk 2 kitab tersebut, Imam Muslim rhm. meriwayatkan, antara lain, sebagai berikut:

"(Telah berkata Mu`aawiyah bin al-Hakam as-Sulamiy) Aku mempunyai seorang jariah yang menggembala kambingku di sebelah bukit Uhud dan al-Jawwaniyyah. Suatu hari ketika aku menjengoknya, tiba-tiba seekor serigala telah melarikan seekor kambing dari gembalaannya. Dan aku sebagai seorang manusia menjadi marah sebagaimana manusia lainnya, lalu aku menampar mukanya sekali. Kemudian aku mendatangi Junjungan Nabi s.a.w. dan baginda memandang serius perbuatanku yang sedemikian (yakni menampar muka si jariah tersebut). Aku berkata kepada Junjungan Nabi s.a.w.: "Wahai Rasulallah, adakah kumerdekakan dia", (yakni sebagai menebus kesilapan menampar tadi, dia hendak memerdekakan si jariah tersebut) ? Junjungan Nabi s.a.w. menyuruh agar si jariah didatangkan kepada baginda. (Apabila si jariah berada di hadapan Junjungan Nabi s.a.w.), Junjungan Nabi s.a.w. bertanya kepadanya: "Di manakah Allah ?" Jariah tersebut menjawab: " Di langit." Junjungan s.a.w. bertanya lagi: "Siapakah aku?", jariah tersebut menjawab: "Engkau Rasulullah." Junjungan bersabda: "Merdekakanlah dia, bahawasanya dia seorang wanita yang beriman."


Itulah matan hadits mengenai jariah tersebut, manakala di pinggir atau tepi halaman yang sama tercatat nota tepi seperti berikut:

Perkataannya (yakni perkataan dalam matan hadits) - "Dia (si jariah) berkata: "Di langit," - yakni (sebagai membuktikan) bahawasanya dia bukan termasuk dalam golongan yang menuhankan selain Allah yang Maha Gagah yang kegagahan dan keperkasaanNya mengatasi segala hamba dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupaiNya. Dan dikatakan bahawasanya tafsir bagi firman Allah : "Patutkah kamu merasa aman (tidak takut) kepada Tuhan (yang pusat pemerintahanNya) di langit itu ..." (al-Mulk: 16 - Tafsir Pimpinan ar-Rahman), tafsir "Dia yang di langit" itu ialah Allah ta`ala dengan takwil kekuasaanNya (yakni ditafsirkan dengan takwil seperti dikatakan "Allah yang (kekuasaanNya) di langit" atau "Allah yang (pusat kekuasaanNya atau pemerintahanNya) di langit", bukan hanya ditafsirkan dengan semata-mata makna "Allah yang di langit")

Sekarang, mari ikhwah lihat apa perkataan Imam an-Nawawi rhm. berhubung hadits ini. Komentar Imamuna an-Nawawi ini terdapat dalam syarahnya yang masyhur atas Shohih Muslim iaitu "Shohih Muslim bi syarhi al-Imam an-Nawawi", jilid 3, juzuk 5, halaman 24, di mana Imam an-Nawawi menyatakan, antara lain:-

Sabda Junjungan Nabi s.a.w. ("Di manakah Allah ?" Jariah tersebut menjawab: " Di langit." Junjungan s.a.w. bertanya lagi: "Siapakah aku?", jariah tersebut menjawab: "Engkau rasulullah." Junjungan bersabda: "Merdekakanlah dia, bahawasanya dia seorang wanita yang beriman."). Hadits ini adalah daripada hadits-hadits sifat yang dalam memahaminya ada 2 mazhab (jalan atau cara) yang mana kedua-duanya telah dinyatakan terdahulu dalam kitab al-iman (yakni pada awal atau permulaan kitab).

Jalan yang pertama ialah beriman dengannya (yakni dengan hadits tersebut) tanpa mendalami apa yang dimaksudkannya disertai dengan i'tiqad bahawasanya Allah ta`ala itu tidak menyerupai sesuatu apa pun dan mensucikanNya daripada segala tanda-tanda atau sifat-sifat makhluk.

Jalan yang kedua pula ialah mentakwilkan hadits tersebut dengan apa yang layak bagi Allah. Maka sesiapa yang berpegang dengan jalan yang kedua ini, berpeganglah dia dengan bahawasanya yang dimaksudkan dengan hadits tersebut ialah Junjungan Nabi s.a.w. menguji jariah tersebut untuk mengetahui sama ada dia seorang ahli tawhid yang mengakui Maha Pencipta, Maha Pentadbir dan Maha Pembuat adalah Allah semata-mata, yang mana Dialah Tuhan yang apabila seseorang memohon kepadaNya maka dia menghadap ke langit sebagaimana apabila seseorang sembahyang dia menghadap kaabah, dan tidaklah perlakuan sedemikian ini (yakni menghadap ke langit ketika berdoa atau menghadap kaabah ketika bersholat) menunjukkan bahawasanya Allah terbatas di langit sebagaimana juga tidaklah Dia terbatas pada jihat (arah) kaabah (yakni Allah tidak dibatasi oleh sebarang tempat kerana Dia Maha Suci daripada segala tempat dan arah, subhanAllah).

Bahkan perbuatan menghadap ke langit itu adalah kerana langit itu adalah kiblat orang yang berdoa sebagaimana kaabah itu kiblat bagi orang yang sholat. Atau si jariah tadi ialah seorang penyembah segala berhala yang menyembah berhala-berhala tersebut di hadapan mereka (yakni di sisi atau bersama mereka di bumi), maka tatkala dia menjawab: "Di langit," diketahuilah bahawasanya dia seorang ahli tawhid dan bukannya seorang penyembah berhala (yakni jika jariah tersebut seorang penyembah berhala, nescaya dia tidak akan menjawab bahawa Allah Tuhannya di langit, tetapi dia akan menunjukkan berhala yang disembahnya yang berada bersamanya di bumi ini).

Telah berkata al-Qaadhi 'Iyaadh: "Tidak ada khilaf di kalangan umat Islam sekaliannya (qaathibatan), ahli-ahli fiqh mereka, ahli-ahli hadits mereka, ahli-ahli kalam mereka, para pemuka dan pengikut mereka bahawasanya segala nas yang pada zahirnya menyebut Allah di langit seperti firman Allah ta`ala: "Patutkah kamu merasa aman (tidak takut) kepada Tuhan (yang pusat pemerintahanNya) di langit itu, menunggang-balikkan bumi menimbus kamu,.....( al-Mulk: 16 - Tafsir Pimpinan ar-Rahman) dan ayat-ayat yang seumpamanya tidaklah diertikan atau dimaknakan secara zahir bahkan ditakwilkan di sisi mereka semua (yakni semua umat Islam, salaf dan khalaf semuanya mentakwilkan nash-nash ayat dan hadits tersebut, cuma kebanyakan ulama salaf mentakwilkannya secara ijmal sahaja dan mentafwidhkan makna hakikinya kepada Allah semata-mata, sekali-kali tidak mereka berpegang dengan makna zahir ayat dan hadits tersebut, bahkan mereka takwilkan maknanya dengan mengakui kelemahan fikiran mereka untuk memahami makna hakikinya lalu mereka mensucikan Allah dari menyerupai makhlukNya serta menyerahkan bulat-bulat makna dan pengertian ayat atau hadits tersebut kepada Allah s.w.t. sahaja, manakala kebanyakan ulama khalaf mentakwilkannya dengan tafshil).

Diharap ikhwah yang budiman boleh memahami akan perkara ini dengan sebenar-benar faham. Jelas sudah mengikut Imam an-Nawawi yang menukilkan kalam Qadhi 'Iyaadh yang menyatakan bahawa dengan ayat-ayat atau hadits-hadits sifat yang mutasyabbihat, maka ianya ditanggapi dengan 2 cara atau kaedah, iaitu ditakwilkan secara ijmal dengan mentanzihkan Allah daripada menyerupai makhlukNya yang baharu dan ditafwidhkan maknanya terus kepada Allah semata-mata, tanpa sebarang komentar. Ini yang diisyaratkan oleh Imam Ibnu Hajar al-'Asqalaani yang menyebut dalam "Fathul Bari" bahawa Imam al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan sanad yang shohih daripada Imam Ahmad bin Abi al-Hawaari bahawasanya Imam Sufyan bin 'Uyainah rhm berkata: "Segala sifat yang difirmankan Allah bagi diriNya dalam al-Quran, maka tafsirannya ialah pembacaan ayat tersebut dan diam daripada membicarakannya." Hal ini jugalah dinyatakan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam "Fatawa Haditsiyyah" yang menyatakan bahawa sesungguhnya khilaf ulama salaf dengan ulama khalaf hanyalah pada penggunaan takwil tafshil sahaja, di mana ulama salaf lebih mengutamakan takwil secara ijmal dan mendiamkan diri daripada berbicara lebih lanjut mengenainya kerana keelokan zaman mereka itu menyebabkan perbahasan panjang lebar mengenai hal ini tidak diperlukan. Tetapi para khalaf mengutamakan takwil secara tafshil kerana zaman mereka telah banyak manusia-manusia yang rosak, ahli-ahli bid`ah dan sebagainya.

Untuk memperjelaskan lagi, yang dimaksudkan dengan takwil ijmal itu ialah lencongan makna kalimah dengan ringkas tanpa memberi erti alternatifnya. Contoh, kalimah al-yad yakni tangan, jika dikatakan "Tangan Allah atas segala tangan mereka", maka takwil ijmalnya ialah kalimah tangan di sini dilencongkan maknanya dari pengertian biasa sebagai satu anggota atau satu juzuk tubuh badan kepada makna selain pengertian biasa tersebut, iaitu ianya bukan membawa erti satu anggota atau satu juzuk daripada Dzat Allah yang Maha Mulia, tetapi ianya adalah satu sifat yang tidak kita ketahui akan hakikatnya dan Allah sahaja yang mengetahui hakikatnya. Maka tangan yang asal maknanya satu juzuk anggota dilencongkan maknanya kepada satu sifat yang lemah akal kita untuk memahami hakikatnya. Inilah takwil ijmal perlakuan kebanyakan salaf. Tidaklah mereka beri'tiqad bahawa Allah itu bertangan dengan tangan yang layak bagi Dzatnya.

 Ini bukan i'tiqad para salaf, tetapi i'tiqad orang-orang yang mengaku salaf zaman ini. Bila salaf kata tangan Allah, ia merujuk kepada satu sifat dan bukan satu juzuk atau satu anggota daripada Dzat yang Maha Mulia, subhanAllah, Maha Suci Allah daripada berjuzuk-juzuk dan beranggota-anggota. Kaedah ini memang lebih selamat (aslam), kerana hanya Allah sahaja yang Maha Mengetahui, tetapi bagi kalangan awam yang hanya duduk mendengar - dengar sahaja mungkin dikhuathiri membawa fitnah kerana awam akan memahami kalimah tangan itu dengan makna lazim iaitu satu anggota, lalu beri'tiqadlah si awam bahawa Allah juga beranggota kerana mempunyai tangan, cuma tanganNya tidaklah seperti tangan makhluk, iaitu tangan yang layak bagi DzatNya, subhanAllah, ini tidak lain melainkan i'tiqad hasywiyah dan mujasimah yang mentasybih serta mentajsimkan Allah, subhanAllah. Oleh itu, apabila sampai zaman khalaf, di mana manusia-manusia terutama golongan awam sudah mengutamakan dunia daripada akhirat, di mana banyak juhala` berbanding 'ulama, maka para Khalaf yang merupakan pewaris para salaf mentakwilkan ayat-ayat dan hadits-hadits mutasyabbihaat ini dengan takwil tafshil demi menutup jalan bagi awam untuk berfikir yang bukan-bukan terhadap Dzat Allah yang Maha Mulia. Maka ditakwilkan tangan itu kepada kekuasaan dan sebagainya, maka bila dikatakan "Tangan Allah di atas segala tangan mereka", ditakwilkanlah secara tafshil sebagai "Tangan yakni kekuasaan Allah mengatasi segala kekuasaan mereka". Maka terhindarlah orang awam daripada berfikir yang bukan-bukan, oleh itu dikatakan bahawa jalan khalaf ini lebih ahkam yakni lebih mantap kerana ianya memantap dan menetapkan pegangan awam serta mencegah mereka daripada mengkhayal-khayalkan sifat yang tidak layak bagi Allah, seperti menyerupai akan segala makhluk yang baharu.

Harap segala ikhwan, baik lelaki maupun perempuan, khuntsa pun jika ada, faham betul-betul akan bahasan ini. Jika masih belum faham, maka diam itu keselamatan sebagaimana sabdaan Junjungan Nabi s.a.w. : man shomata najaa (yakni "Sesiapa yang mendiamkan diri, selamat"), dan duduklah tuan dan puan, sidi dan siti di hadapan para ulama tuan-tuan guru dengan mengaji menadah segala kitab peninggalan para ulama salaf dan khalaf. Sesungguhnya ilmu itu cahaya, bertambah ilmu nescaya bertambah cahaya, insya-Allah, tapi syaratnya hendaklah ilmu yang naafi` yang bermanfaat, bukan ilmu semata-mata ilmu untuk berjidal dan bermegah-megah.

Berbalik kepada hadits jariah tadi, maka selain penjelasan di atas, ada lagi penjelasan dan keterangan lain daripada para ulama kita dari berbagai aspek bahasannya. Dari semua penjelasan tersebut, maka mereka menyimpulkan bahawa apa yang dimaksudkan oleh hadits tersebut bukanlah menetapkan tempat bagi Allah. Oleh itu, sesiapa yang mengatakan bahawa Allah itu bertempat di sesuatu tempat seumpama langit, maka menyalahilah dia akan pegangan Ahlus Sunnah wal Jama`ah, jadi janganlah dok perasan bahawa dirinya pembela Ahlus Sunnah wal Jama`ah. Dan tidaklah tepat baginya untuk menjadikan hadits jariah ini sebagai hujjah untuk mensabitkan bahawa Allah bertempat di langit. Apatah lagi hadits ini walaupun shohih tidaklah mencapai darjat mutawatir. Maka apa caranya dia hendak menjadikan hadits ini sebagai hujjahnya untuk menyesatkan orang yang tidak sependapat dengan i'tiqad hasywiyahnya itu. Perkara ini adalah antara kesimpulan yang telah ditekan dan diperjelaskan oleh mantan Mufti Tunisia, Syaikh Muhammad Mukhtar as-Salaami (hafizahUllah).

Bahkan, jika dilihat "Shohih Muslim", kita dapati bahawa Imam Muslim rhm sendiri tidak meletakkan hadits ini dalam kitab al-iman atau bab-bab yang berhubung dengan keimanan dan pegangan aqidah tetapi beliau meletakkannya dalam bab fiqh berhubung hukum hakam sembahyang iaitu kitab al-masaajid wa mawaadhi` ash-sholaah, bab tahriim al-kalaam fi ash-sholaah wa nasakha maa kaana min ibaahatih (kitab mengenai masjid-masjid dan tempat-tempat sembahyang, bab haram berkata-kata dalam sembahyang serta menasakhkan riwayat yang mengharuskan berkata-kata dalamnya). Maka isyaratnya ialah hadits ini hanyalah untuk dijadikan hujjah dalam bab-bab fiqh semata-mata. Menjadikannya sebagai hujjah dalam mensabitkan secara qathi`e akan usul aqidah menunjukkan lemahnya si penghujjah itu daripada memahami uslub dan kaedah dalam menetapkan 'aqidah pegangan umat ini. Allahu a'lam


Dicatat oleh Abu Muhammad

Allahu'alam.